Sebuah perusahaan rintisan bernama Radical Numerics mengumumkan terobosan medis berupa penciptaan virus buatan menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang kemudian disuntikkan ke pasien manusia untuk mengobati infeksi bakteri, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.
Terapi Fag Berbasis AI
Perusahaan tersebut menjelaskan bahwa virus yang dirancang bukanlah agen pembawa penyakit, melainkan pembasmi bakteri yang menyerang tubuh manusia. Metode ini mengadaptasi konsep terapi fag, yakni pemanfaatan virus yang secara alami menyerang bakteri guna melawan infeksi yang telah resistan terhadap antibiotik.
Perbedaannya terletak pada proses pembuatan yang biasanya memerlukan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Melalui teknologi AI, virus dirancang secara langsung sehingga prosesnya berjalan jauh lebih cepat dan memiliki sasaran yang tepat.
Pro Kontra dan Skeptisisme Ilmiah
Langkah tersebut memicu perdebatan di kalangan ilmuwan global karena hasil riset tidak diterbitkan dalam jurnal ilmiah yang ditinjau rekan sejawat, melainkan hanya dimuat pada situs web perusahaan. Di samping itu, pihak perusahaan enggan membagikan detail mengenai identitas pasien maupun dokter yang terlibat demi menjaga kerahasiaan dan nilai komersial temuan tersebut.
“Jika ini benar-benar berhasil, sungguh luar biasa. Namun naluri saya tetap ragu,” tutur Michael Baym, ahli mikrobiologi dari Universitas Harvard, seperti dikutip dari Futurism.
Baym menekankan bahwa klaim sebesar itu harus melalui proses peninjauan rekan sejawat yang transparan, dapat diverifikasi, serta mampu diulang oleh ilmuwan lain.
Apabila terbukti aman dan mujarab, teknologi ini berpotensi merevolusi dunia medis dengan mengatasi ribuan bakteri yang kebal antibiotik. Kendati demikian, tanpa pengawasan yang ketat, kemampuan merancang virus buatan menyimpan risiko yang belum dapat diprediksi.







