Daftar Isi
Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan pekan lalu dengan kinerja positif, namun harus bersiap menghadapi berbagai tekanan eksternal pada pekan ini. Sejumlah sentimen global, mulai dari kejatuhan bursa Wall Street hingga keputusan suku bunga dari tujuh bank sentral dunia, diprediksi akan menjadi penggerak utama pasar.
Kinerja Pasar Keuangan Domestik Pekan Lalu
Indeks Harga Saham Gabungan ditutup menguat 0,95 persen atau naik 51,35 poin ke level 5.439,26 pada perdagangan Jumat (23/10/2026). Dalam sepekan, IHSG tercatat menanjak 4,9 persen setelah sempat merosot 14,9 persen pada pekan sebelumnya, sementara investor asing membukukan penjualan bersih sebesar Rp8,73 triliun.
Di Bursa Efek Indonesia, saham PT Guna Timur Raya Tbk mencatat penguatan tertinggi sebesar 87,11 persen, disusul PT Pudjiadi & Sons Tbk dan PT Widodo Makmur Unggas Tbk. Sebaliknya, saham PT Alkindo Naratama Tbk mengalami koreksi terdalam sebesar 29,92 persen, diikuti PT Artha Mahiya Investama Tbk dan PT Multi Medika Internasional Tbk.
Dari pasar nilai tukar, rupiah berhasil berbalik menguat tipis 0,03 persen ke posisi Rp18.040 per dolar AS pada akhir pekan lalu, meski secara mingguan masih melemah 0,22 persen. Sementara itu, imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun melonjak ke level 7,446 persen yang mencerminkan aksi jual oleh investor.
Tekanan di Wall Street dan Pasar Global
Di Amerika Serikat, Wall Street ditutup melemah pada akhir pekan lalu akibat aksi jual saham teknologi yang meluas ke sektor lain serta lonjakan harga minyak mentah yang melewati US$100 per barel. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1,23 persen ke level 52.215,16, S&P 500 turun 0,52 persen ke posisi 7.623,68, dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,21 persen menjadi 25.955,34.
Manajer portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, menjelaskan bahwa investor dalam dua pekan terakhir mengalihkan dana dari saham teknologi ke aset yang lebih aman karena faktor emosi dan ketakutan pasar. Meskipun demikian, ia menilai laporan keuangan emiten teknologi masih menunjukkan kinerja yang cukup kuat.
Pasar global pekan ini akan menghadapi agenda padat, termasuk pengumuman kebijakan moneter dari tujuh bank sentral dunia. Bank-bank sentral tersebut meliputi State Bank of Pakistan pada 26 Oktober; Federal Reserve AS, Bank of Canada, Reserve Bank of New Zealand, serta Bank of Thailand pada 28 Oktober; European Central Bank pada 29 Oktober; dan Bank of Japan pada 30 Oktober.
Agenda Ekonomi Utama dan Korporasi
China menggelar Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis pada 26 hingga 29 Oktober 2026 untuk membahas arah kebijakan strategis dan ekonomi negara tersebut. Selain itu, China juga dijadwalkan merilis data laba industri periode Januari-September.
The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen, dengan perhatian investor tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh. Amerika Serikat juga akan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga dan inflasi Personal Consumption Expenditures.
Di dalam negeri, agenda hari ini mencakup Rapat Koordinasi Keamanan Pangan oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, konferensi pers penindakan ekspor ilegal emas oleh Bea Cukai, serta penyelenggaraan Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 yang dihadiri Presiden.
Agenda korporasi domestik hari ini meliputi Rapat Umum Pemegang Saham PT Link Net Tbk dan PT Yelooo Integra Datanet Tbk, serta tanggal pembayaran dividen tunai interim dari sejumlah perusahaan termasuk United Tractors Tbk dan Astra Agro Lestari Tbk.






