Populasi koala di bagian timur Australia menghadapi ancaman serius akibat infeksi chlamydia yang menyebabkan kebutaan, ketidaksuburan, hingga kematian. Di tengah upaya penyelamatan, pengembangan vaksin chlamydia justru memicu perdebatan di kalangan periset mengenai tingkat efikasinya.
Ancaman Penyakit dan Kendala Pengobatan
Infeksi bakteri *Chlamydia pecorum* menyebar melalui perkawinan atau kontak dekat, memicu peradangan kandung kemih dan keluarnya cairan pada mata koala. Profesor patologi veteriner Universitas Sydney, Mark Krockenberger, mengatakan bahwa betina yang terinfeksi pada umumnya akan mandul secara cepat. Sementara itu, peneliti pascadoktoral QUT, Freya Russell, menyebutkan bahwa koala yang terinfeksi berat juga mengalami kekurusan parah. Prevalensi chlamydia di sejumlah wilayah bahkan mencapai dua dari tiga ekor koala.
Pemerintahan Australia menetapkan koala di Queensland, New South Wales, dan Australian Capital Territory sebagai satwa terancam punah sejak tahun 2022. Pengobatan menggunakan antibiotik pada koala tidak sesederhana pada manusia karena dapat membunuh mikroba usus yang berfungsi mencerna daun eukaliptus beracun. Menurut peneliti Universitas Queensland, Dr Lyndal Hulse, gangguan mikroba tersebut dapat memicu penurunan berat badan, diare, hingga disbioisis yang berpotensi fatal.
Pengembangan Vaksin dan Polemik Data
Tim peneliti dari Queensland University of Technology (QUT) mengembangkan vaksin dua dosis menggunakan protein membran luar chlamydia. Russell menjelaskan bahwa timnya telah memvaksinasi lebih dari 500 koala di kawasan Currumbin, Gold Coast, dengan hasil menjanjikan berupa penurunan kunjungan rumah sakit satwa. Guna mengatasi kesulitan pemberian dosis penguat pada koala liar, peneliti menciptakan implan biodegradable yang melepaskan dosis kedua secara bertahap.
Di sisi lain, vaksin satu dosis buatan peneliti Universitas Sunshine Coast (UniSC) telah disetujui oleh Otoritas Pestisida dan Obat-Obatan Hewan Australia (APVMA) pada September 2025. Namun, virolog molekuler Universitas Queensland, Profesor Keith Chappell, mempertanyakan efikasi vaksin tersebut setelah menemukan dugaan kesalahan analisis data dalam makalah tahun 2024 yang diterbitkan di jurnal npj Vaccines. Dalam pra-cetak bersama Dr Michaela Blyton, Chappell menyatakan bahwa tingkat kelangsungan hidup sebelum vaksinasi keliru diatribusikan sebagai dampak vaksin, dan mendesak agar penggunaan vaksin oleh dokter hewan tidak direkomendasikan.
Kepada The Guardian, Chappell menilai kesalahan data tersebut sebagai kekeliruan sepele dan mengkritik sistem regulasi yang gagal. Menanggapi hal itu, juru bicara APVMA menyatakan bahwa izin yang diberikan menyatakan vaksin tersebut dapat membantu mengurangi tanda klinis penyakit, bukan mencegah kematian secara mutlak. APVMA menegaskan pihaknya akan tetap menilai informasi ilmiah baru yang kredibel untuk menentukan langkah regulasi lanjutan.
Perwakilan UniSC menyambut baik pengawasan ilmiah tersebut namun menegaskan bahwa perdebatan tersebut tidak membatalkan penelitian ilmiah yang telah ditinjau sejawat selama lebih dari satu dekade. Sementara itu, uji coba terkontrol acak yang melibatkan peneliti Sydney pada tahun lalu menunjukkan bahwa vaksin UniSC memang memicu respons kekebalan, tetapi tidak berdampak signifikan terhadap chlamydiosis. Profesor mikrobiologi UniSC, Peter Timms, menyatakan keyakinannya bahwa vaksin tersebut tetap memberikan manfaat kesehatan yang kuat di tengah proses perbaikan yang terus berjalan.
Sumber: Environment | The Guardian






