Pemerintah Inggris sedang mempertimbangkan perubahan besar pada kebijakan kendaraan listrik (EV) yang dapat memperlambat adopsi mobil nir-emisi dan menghambat pencapaian target karbon negara tersebut. Target ambisius agar 80 persen mobil baru bebas emisi pada 2030 kini dikaji ulang dan berisiko diturunkan hingga menyentuh angka 50 persen.
Dampak Perubahan Kebijakan terhadap Emisi Karbon
Berdasarkan mandat kendaraan nir-emisi saat ini, seluruh mobil dan van baru yang dijual mulai 2035 diwajibkan menggunakan tenaga listrik penuh, disertai target antara sebesar 80 persen untuk mobil baru dan 70 persen untuk van baru pada 2030. Meskipun target akhir 2035 kemungkinan besar tidak berubah, konsultasi publik yang ditutup pada hari Jumat membuka peluang pelemahan target 2030 menjadi 70 persen atau 50 persen.
Berdasarkan analisis lembaga think tank Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) seperti dilaporkan The Guardian, pelonggaran target ke angka 50 persen pada 2030 dapat memicu tambahan emisi setara 147 megaton karbon dioksida. Angka tersebut setara dengan sekitar 58 persen proyeksi emisi dari pembakaran minyak di ladang minyak Rosebank. Jika digabungkan dengan pelonggaran aturan sebelumnya yang memperbolehkan penjualan mobil hibrida, total emisi yang dihasilkan bahkan akan melampaui pembakaran gas di ladang Jackdaw.
Analis ECIU Jess Ralston menyatakan kepada The Guardian bahwa penurunan target tidak akan menyelesaikan masalah bagi produsen otomotif yang kini menghadapi persaingan ketat dari Tiongkok. Kebijakan itu juga dinilai tidak memberikan keuntungan bagi masyarakat karena biaya operasional kendaraan listrik bisa lebih hemat hingga 1.750 poundsterling per tahun. Menurut Ralston, langkah mundur tersebut justru mengunci masyarakat dalam biaya berkendara yang lebih tinggi, meningkatkan polusi udara, serta mendongkrak emisi karbon.
Tantangan Industri dan Perpecahan Politik
Perdana Menteri Andy Burnham menghadapi situasi rumit karena para anggota parlemen dari Partai Buruh terpecah menyikapi tekanan dari industri otomotif. Sebagian politisi yang wilayah pemilihan dilingkupi pabrik mobil berpihak pada produsen, sementara pihak lainnya menilai kendaraan listrik merupakan solusi menekan biaya hidup di tengah lonjakan harga bahan bakar fosil.
Anggota Parlemen Buruh untuk North East Hertfordshire, Chris Hinchliff, mengatakan kepada The Guardian bahwa pelemahan target kendaraan listrik akan menjadi pukulan telak bagi masa depan yang layak huni. Sementara itu, mantan menteri lingkungan sekaligus Anggota Parlemen Buruh untuk Brent West, Barry Gardiner, menilai pembalikan arah kebijakan akan merugikan perusahaan progresif dan menguntungkan pihak yang lamban beradaptasi.
Di sisi lain, Perdana Menteri Burnham menegaskan komitmennya untuk mencapai target nol bersih emisi gas rumah kaca pada 2050. Burnham juga dihadapkan pada dilema terkait kebijakan tarif impor kendaraan listrik asal Tiongkok yang diterapkan Uni Eropa pada 2024, di mana ia harus memutuskan apakah akan mengikuti langkah serupa demi integrasi perdagangan yang lebih erat dengan Eropa.
Juru bicara pemerintah menyatakan bahwa pihaknya sedang meninjau mandat kendaraan nir-emisi untuk memastikan dukungan berkelanjutan bagi industri serta investasi di Inggris tanpa mengubah tujuan akhir penghapusan total mobil bensin dan diesel pada 2030.
Sumber: Environment | The Guardian







