Daftar Isi
Asap hitam dari pembakaran sampah menyelimuti kawasan Usaifira di sisi utara kota Taiz, Yaman, sementara aroma busuk memenuhi udara di lingkungan permukiman sekitarnya. Tumpukan limbah rumah tangga yang tidak terangkut kini memenuhi aliran sungai al-Saeed, menciptakan krisis layanan publik yang mengancam kesehatan serta keselamatan lingkungan warga setempat.
Gangguan Layanan Kebersihan Akibat Konflik
Sejak awal Oktober, penumpukan sampah terjadi karena truk sanitasi tidak mampu menjangkau tempat pembuangan akhir utama di bagian barat kota. Wilayah tersebut dikuasai oleh pasukan Houthi yang didukung Iran, yang telah mengepung kota tersebut selama sebulan dan berdampak pada ratusan ribu orang. Pertempuran semakin intensif sejak 5 Oktober, saat pasukan pemerintah yang diakui secara internasional, dengan dukungan koalisi militer pimpinan Arab Saudi, meluncurkan serangan besar untuk merebut kembali wilayah di bawah kendali Houthi.
Petugas kebersihan di Taiz melaporkan bahwa penembak jitu telah ditempatkan di sekitar lokasi pembuangan sampah. Menurut laporan Al Jazeera, staf kebersihan telah menghadapi tembakan lebih dari satu kali saat mencoba mencapai lokasi untuk mengosongkan truk mereka, yang menghalangi operasi pembuangan limbah. Kondisi ini diperparah dengan kelangkaan bahan bakar yang akut, sehingga sampah menumpuk di jalanan dan saluran air, memaksa warga untuk membakarnya demi mengurangi tumpukan.
Ancaman Kesehatan bagi Warga
Aliran sungai al-Saeed kini berubah menjadi tempat pembuangan sampah yang dipenuhi asap beracun. Warga Usaifira, Abdo Hadi, menuturkan kepada Al Jazeera bahwa kondisi ini menyebabkan sesak napas dan penyakit bagi anak-anak maupun orang dewasa. Ia menambahkan bahwa warga merasa terjepit karena pengepungan yang terjadi dari segala sisi, ditambah dengan kelangkaan gas, bensin, dan maraknya pasar gelap.
Mohammed Ibrahim, direktur inisiatif kebersihan di Taiz, menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa pengumpulan sampah terganggu parah sejak 5 Oktober akibat pemotongan pendanaan dan terputusnya pasokan operasional. Seorang petugas kebersihan di lokasi mengungkapkan bahwa mereka terpaksa menumpuk sampah di sungai karena perang, sementara warga sekitar terpapar risiko penyakit setiap hari.
Krisis Kemanusiaan yang Meluas
Krisis sampah ini merupakan bagian dari runtuhnya layanan dasar di Taiz. Pada 20 Oktober, Koordinator Kemanusiaan PBB untuk Yaman, Laurent Bukera, menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi kemanusiaan dan ekonomi yang memburuk dengan cepat. Ia memperingatkan bahwa penutupan jalan dan ketidakamanan menghambat pasokan vital, termasuk bahan bakar, yang membuat sistem kesehatan berada di ambang kehancuran.
Bukera mendesak pihak Houthi untuk segera membuka jalur aman bagi barang komersial, makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan. Program Pangan Dunia (WFP) juga memperingatkan bahwa konflik telah memutus akses bantuan bagi 800.000 orang, termasuk 600.000 warga yang bergantung pada bantuan di dalam kota. Perwakilan WFP di Yaman, El-Khidir Daloum, menekankan bahwa situasi ini dapat dengan cepat berubah menjadi bencana kemanusiaan jika bantuan tidak dapat bergerak dengan aman.
Juru bicara Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA), Jens Laerke, menambahkan bahwa akses jalan yang terputus menyebabkan pasokan bahan bakar dan makanan yang masuk ke kota sangat minim. Akibatnya, produksi air bersih menurun drastis dan biaya air yang dikirim melalui truk melonjak hingga tiga kali lipat.
UNICEF turut menyoroti risiko kesehatan yang meningkat, dengan mencatat lebih dari 52.000 anak di Taiz mengalami malnutrisi akut dari 168.000 anak yang diperiksa tahun ini. Juru bicara UNICEF, Ricardo Pires, memperingatkan bahwa kendala logistik dan gangguan rute pasokan mempersulit mitra kemanusiaan untuk mengangkut bantuan serta menghalangi keluarga untuk mendapatkan akses pengobatan yang aman.








