Daftar Isi
Amerika Serikat telah mengirimkan lebih dari 25.000 sistem nirawak atau drone beserta teknologi anti-drone kepada pasukan militernya di Timur Tengah sepanjang tahun ini. Langkah strategis ini dilakukan menyusul investasi sebesar 782 juta dolar AS atau setara dengan Rp14 triliun yang digelontorkan oleh Pentagon.
Detail Pengiriman Teknologi Nirawak
Pentagon secara resmi mengumumkan pengiriman tersebut pada Rabu (4/11). Berdasarkan laporan Anadolu Agency, pengiriman ini mencakup lebih dari 1.300 kendaraan udara nirawak (UAV) yang dirancang untuk serangan satu arah, lebih dari 100 kapal permukaan dan bawah laut nirawak, serta lebih dari 24.000 sistem anti-drone.
Sistem anti-drone yang dikirimkan berfungsi sebagai pelindung bagi pasukan AS dari potensi serangan pesawat nirawak pihak lawan. Seluruh kemampuan tempur ini disalurkan melalui Manajer Portofolio Pelaporan Langsung untuk Sistem Tanpa Awak (DRPM-UxS), sementara operasi pertahanan anti-drone didukung oleh Joint Interagency Task Force 401.
Perubahan Strategi Pertahanan AS
Program pengiriman ini menandai pergeseran dalam strategi pengadaan alat pertahanan Amerika Serikat. Pemerintah kini memprioritaskan percepatan proses pengadaan serta peningkatan produksi massal sistem nirawak dengan biaya yang lebih efisien. Langkah ini diharapkan dapat menambah kemampuan tempur para komandan militer sekaligus mengurangi ketergantungan pada persenjataan konvensional yang berbiaya tinggi.
CEO Project Agincourt sekaligus DRPM-UxS, Owen West, menyatakan bahwa pihaknya bergerak dengan kecepatan pertempuran modern untuk melengkapi pasukan dengan kekuatan yang menentukan dan terjangkau di bawah arahan Wakil Menteri Pete Hegseth.
Rencana Masa Depan dan Komando Otonom
Penguatan teknologi nirawak ini juga sejalan dengan rencana pembentukan Komando Perang Otonom (Autonomous Warfare Command/AUTOWARCOM). Pentagon telah mengusulkan pembentukan komando tempur bintang empat tersebut yang ditargetkan mulai beroperasi pada 1 Oktober 2027.
Pentagon memastikan bahwa pengiriman sistem nirawak ke Komando Pusat AS (CENTCOM) akan terus berlanjut. Selain itu, pemerintah AS berencana untuk memperluas penggunaan sistem nirawak dan otonom bagi pasukan militernya di kawasan Indo-Pasifik, Eropa, serta seluruh Pasukan Gabungan AS.








