Politik

Manipulasi Pasar Prediksi Bayangi Pemilu AS

Manipulasi Pasar Prediksi Bayangi Pemilu AS
Daftar Isi
  1. Proyeksi Meleset dalam Pemilihan Wali Kota Los Angeles
  2. Mekanisme Lonjakan Harga dan Indikasi Manipulasi
  3. Dampak Lonjakan Harga terhadap Persepsi Pemilih
  4. Pengawasan Regulasi dan Perdebatan Hukum

Pasar prediksi pemilu di Amerika Serikat semakin populer sebagai sarana spekulasi politik, tetapi lonjakan harga mencurigakan memicu kekhawatiran adanya manipulasi pasar. Praktik ini berisiko menyesatkan pandangan pemilih serta meragukan integritas hasil pemilihan umum.

Proyeksi Meleset dalam Pemilihan Wali Kota Los Angeles

Pasar prediksi seperti Kalshi, Polymarket U.S., dan Polymarket International sempat menempatkan Spencer Pratt sebagai kandidat kuat dalam pemilihan awal (*primary*) wali kota Los Angeles pada Juni 2026. Pratt, seorang mantan bintang acara televisi realitas yang rumahnya hancur akibat kebakaran Palisades, memanfaatkan kritik terhadap respons pemerintah kota sebagai isu kampanyenya meskipun belum pernah menduduki jabatan publik.

Aktivitas spekulasi pada pemilihan wali kota tersebut menarik nilai transaksi lebih dari 47 juta dolar AS, menjadikannya kontestasi wali kota yang paling banyak diperdagangkan pada 2026. Menjelang hari pemungutan suara, salah satu pasar memberi Pratt peluang sebesar 78 persen untuk melaju ke putaran kedua pada November. Namun, proyeksi tersebut meleset jauh setelah Pratt mengakhiri pemilihan di urutan ketiga.

Kegagalan proyeksi pasar ini kemudian dimanfaatkan oleh para pendukung Pratt untuk mempertanyakan integritas pemilu. Menanggapi hal tersebut, Registrar-Recorder di Kantor Panitera Los Angeles County, Dean Logan, menuturkan kepada CNBC bahwa pasar prediksi dapat memperkeruh suasana ketika masyarakat menganggab proyeksi pasar lebih tepercaya daripada penghitungan suara aktual.

Mekanisme Lonjakan Harga dan Indikasi Manipulasi

Popularitas platform prediksi berkembang pesat. Data dari organisasi nirlaba Anti-Corruption Data Collective (ACDC) menunjukkan bahwa nilai taruhan terkait pemilu Kongres 2026 telah meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan pemilu 2024. Di Kalshi, jumlah penonton pasar pemilu sela bahkan mencapai lima kali lipat dari jumlah pedagang aktif.

Meskipun pasar taruhan dianggap likuid, Kalshi mendeteksi adanya lonjakan harga (*price spike*) sementara yang dapat membuat seorang kandidat terlihat memiliki dukungan lebih besar. Pada 20 Mei, seorang pedagang di Kalshi menghabiskan 1,25 juta dolar AS untuk membeli kontrak kemenangan Pratt. Transaksi ini mendongkrak harga kontrak dari 29 sen menjadi 45 sen, yang mengindikasikan lonjakan peluang kemenangan dari 29 persen ke 45 persen. Dalam waktu sembilan detik, harga tersebut kembali terkoreksi ke tingkat semula.

Kepala Penegakan Hukum Kalshi, Robert DeNault, menjelaskan bahwa pedagang rasional di pasar akan segera mengambil kesempatan transaksi tersebut untuk mengembalikan harga ke posisi wajar. Meski demikian, analisis ACDC untuk CNBC menemukan bahwa lonjakan harga berulang kali terjadi di Kalshi dan Polymarket International hingga menguntungkan Pratt. Penelitian ACDC menunjukkan bahwa jika rentang waktu diperluas hingga tiga jam setelah lonjakan, harga tetap bertahan 3 sen lebih tinggi selama sekitar dua jam sebelum akhirnya terkoreksi. Makin lama lonjakan bertahan, makin besar risiko informasi tersebut dianggap sebagai sentimen pasar.

ACDC menemukan bahwa dari 167 pasar Kongres bernilai lebih dari 100.000 dolar AS di Polymarket International dan Kalshi, sebanyak 38 pasar atau sekitar 23 persen mengalami lonjakan harga sebesar 30 sen atau lebih. Contoh lain terjadi pada kontrak Kalshi untuk Juliana Stratton dalam primary Senat Demokrat di Illinois. Transaksi total senilai 8.000 dolar AS sempat memicu kenaikan harga kontrak Stratton hingga 99 sen sebelum akhirnya turun kembali. Stratton kemudian memenangi primary tersebut dua minggu kemudian, di mana juru bicaranya menunjuk hasil survei Public Policy Polling yang terbit di hari yang sama dan memang menunjukkannya unggul.

Dampak Lonjakan Harga terhadap Persepsi Pemilih

Peneliti ACDC, Michelle Kendler-Kretsch, menilai motif finansial tidak sepenuhnya menjelaskan transaksi bernilai besar pada harga tinggi. Pembelian kontrak di harga 99 sen hanya memberikan potensi keuntungan 1 sen saat penyelesaian di nilai 1 dolar AS, yang bahkan bisa tergerus oleh biaya transaksi platform.

Upaya memengaruhi persepsi pemilih diduga menjadi salah satu motivasi utama. Berdasarkan studi yang didanai oleh Brennan Center for Justice terhadap 1.994 pemilih terdaftar pada September, pemilih memiliki kecenderungan 10 hingga 20 persentase poin lebih tinggi untuk percaya seorang kandidat akan menang jika pasar prediksi mengunggulkannya, terlepas dari hasil survei jajak pendapat formal.

Data ACDC kepada CNBC juga menunjukkan bahwa mengubah peluang kemenangan sangat mudah dan murah pada pasar berskala kecil. Dari 18.000 pasar Kongres aktif di platform Polymarket dan Kalshi, sebanyak 88 persen di antaranya dapat diubah harganya sebesar 10 sen hanya dengan satu taruhan di bawah 1.000 dolar AS.

Pengawasan Regulasi dan Perdebatan Hukum

Di sisi lain, proyeksi Kalshi kerap terbukti akurat. Kalshi mencatat bahwa sejak 2024, kandidat yang diunggulkan di pasarnya memenangi pemilihan sekitar 9 dari 10 kali. Analisis Washington Post terhadap 268 kandidat yang diberi peluang 70 hingga 80 persen menang dalam dua bulan sebelum primary menunjukkan tiga perempat di antaranya berhasil menang.

Untuk menekan kekhawatiran manipulasi, Kalshi dan Polymarket meluncurkan fitur transparansi baru, termasuk penanda untuk pasar beraktivitas rendah serta sistem pengawasan khusus pemilu. Kedua platform beroperasi di bawah Commodity Futures Trading Commission (CFTC) dan mengumpulkan data identitas pengguna (*know your customer*). Namun, identitas pedagang di balik setiap transaksi bersifat privat dan hanya bisa diakses melalui proses hukum seperti surat perintah pengadilan, seperti yang dijelaskan Kepala Intelijen dan Penyelidikan Global Polymarket, Shana Bautista, kepada CNBC.

Polymarket International berkolaborasi dengan firma analitik blockchain Chainalysis untuk melacak transaksi mencurigakan. Senior Product Manager Chainalysis, Adam Hart, mencontohkan kasus Gannon Ken Van Dyke, seorang prajurit AS yang dituduh menggunakan informasi rahasia untuk bertaruh terkait penggulingan Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Sementara itu, lonjakan taruhan juga bisa berasal dari spekulan besar, seperti pedagang anonim asal Prancis bernama “Theo” yang meraup keuntungan sekitar 85 juta dolar AS dari kemenangan Donald Trump pada pemilu 2024 setelah bertaruh 60 juta dolar AS.

Upaya pengawasan internal tersebut belum menenangkan para pejabat pemilu. Administrator Maryland State Board of Elections, Jared DeMarinis, mendesak adanya larangan total terhadap taruhan pemilu demi menjaga integritas pemilihan. DeMarinis melarang staf dan hakim pemilu di wilayahnya untuk bertaruh di pasar prediksi dan meminta jaksa negara bagian menyelidiki potensi pelanggaran hukum.

Menurut Pew Research Center, lebih dari separuh negara bagian di AS memiliki undang-undang yang melarang taruhan pemilu. Kendati demikian, platform pasar prediksi berargumen bahwa produk mereka berada di bawah yurisdiksi federal CFTC. New Jersey bersama puluhan negara bagian lainnya kini telah meminta Mahkamah Agung AS untuk memutuskan kewenangan regulasi tersebut, di tengah terus meningkatnya penawaran kontrak pemilu oleh platform prediksi.

Laporan ini mencakup kontribusi dari Ananya Chetia. Sebagai pengungkapan, CNBC dan Kalshi memiliki hubungan komersial yang mencakup akuisisi pelanggan dan investasi minoritas.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *