Lifestyle

Seni Mencopet Aktor John Turturro untuk Peran Film

Seni Mencopet Aktor John Turturro untuk Peran Film

Aktor asal Amerika Serikat, John Turturro, mendalami teknik mencopet langsung dari pakar ilusi dan konsultan keamanan Apollo Robbins untuk kebutuhan peran dalam proyek film terbarunya. Dalam sesi latihan tersebut, Robbins bertindak sebagai koreografer pencurian yang mengajarkan berbagai teknik manipulasi perhatian serta gerakan fisik halus kepada Turturro.

Koreografi Kejahatan dan Teknik Khusus

Turturro mempelajari cara mengambil barang berharga milik korban tanpa disadari, termasuk perubahan cara berjalan seorang pencopet setelah berhasil melancarkan aksinya demi membaur dengan kerumunan. Turturro memilih untuk melakukan sendiri seluruh adegan pencurian tersebut ketimbang menggunakan pengganti tangan. Ia menilai aksi mencopet memiliki kemiripan dengan seni peran karena menuntut kecermatan dan bersifat tanpa kekerasan jika dibandingkan dengan perampokan jalanan.

Robbins turut membagikan sejumlah istilah dan metode tradisional pencopet, seperti peeking the poke atau mengintai letak dompet target, hingga istilah uptown atau the pit untuk saku bagian dalam pakaian. Salah satu trik yang diperagakan adalah reefing the kick, yakni menggeser barang dari luar saku ke batas atas menggunakan jemari. Robbins menyebutkan bahwa tren celana longgar yang kembali populer saat ini memberi kemudahan lebih bagi para pencopet.

Dalam sebuah peragaan, seperti dilaporkan The New Yorker, Robbins memperagakan keahliannya dengan melepas tali jam tangan milik seorang pemuda bernama Zane Roth. Tanpa disadari Roth, Robbins juga berhasil mengambil dompet dari saku depan pemuda tersebut dan menyusupkan kartu mahasiswa Roth ke dalam dompet milik Turturro di tengah perbincangan mereka.

Latar Belakang dan Evolusi Budaya Pencurian

Keahlian Robbins dalam dunia manipulasi berakar dari masa kecilnya di Springfield, Missouri, saat ia tumbuh bersama dua saudara tirinya yang terlibat kejahatan. Ia melakukan aksi pencurian pertamanya pada usia 11 tahun sebelum akhirnya mempelajari ilmu sulap pada usia 14 tahun untuk menggabungkan teknik dari kedua bidang tersebut.

Robbins juga mengamati budaya pencurian di berbagai negara. Di Tiongkok, para pencopet kerap menggunakan sumpit dan jarang mendapat interferensi dari warga sekitar, sementara di Jepang, kepadatan penumpang kereta menjadi celah utama sebelum mereka menyebar saat keluar stasiun. Di sisi lain, perkembangan teknologi ponsel pintar membuat calon korban kian mudah terdistraksi, meski maraknya kamera pengawas membuat pencopet harus mengelabui kamera sekaligus korbannya.

Saat ini Robbins telah mengurangi interaksinya dengan jaringan kriminal demi fokus mendampingi keluarganya. Ia mendirikan perusahaan keamanan bernama Ludus Labs untuk memberi konsultasi kepada kontraktor pemerintah mengenai titik buta dan persepsi manusia. Robbins kerap memperagakan trik mencopet di hadapan pejabat kepolisian dan penegak hukum sebagai analogi untuk menunjukkan celah dalam pola pikir analisis mereka.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *