Dunia

Orang Kaya Meraup Untung Ganda dari Krisis Iklim

Orang Kaya Meraup Untung Ganda dari Krisis Iklim
Daftar Isi
  1. Keuntungan dari Bencana dan Pemulihan
  2. Indeks Penghancur dan Pembangun
  3. Dampak Ketimpangan dan Tuntutan Pajak

Kelompok terkaya di dunia tidak hanya meraup keuntungan dari industri yang mencemari lingkungan, tetapi juga memanfaatkan dampak bencana akibat krisis iklim. Menurut laporan organisasi kesetaraan global Oxfam, fenomena ini memberikan dividen ganda bagi kalangan ultra-kaya.

Keuntungan dari Bencana dan Pemulihan

Studi tersebut menemukan bahwa 0,1 persen orang terkaya di dunia menanamkan modal besar dalam sektor kesiapsiagaan, pemulihan, dan rekonstruksi bencana. Pasar ini diproyeksikan melonjak dari 70 miliar dolar Amerika Serikat menjadi 92 miliar dolar Amerika Serikat per tahun pada 2029.

Kondisi ini memberikan insentif bagi orang-orang paling berkuasa di planet ini untuk menunda atau menghambat upaya penyelesaian krisis iklim. Kepala Bagian Pengaruh Oxfam, Jean McLean, menyatakan bahwa kelompok super-kaya diuntungkan di kedua ujung krisis melalui investasi di industri berpolusi dan ekonomi adaptasi.

Kelompok 0,1 persen terkaya yang mencakup delapan juta orang ini bertanggung jawab atas emisi karbon yang lebih tinggi daripada gabungan 3,5 miliar penduduk termiskin di dunia. Emisi dari kelompok ini menyumbang dampak gelombang panas ekstrem 125 kali lebih besar dibandingkan rata-rata orang biasa.

Indeks Penghancur dan Pembangun

Indeks baru yang dibuat Oxfam mengidentifikasi 217 perusahaan yang memperparah kerusakan iklim atau berbisnis dalam adaptasi iklim, seperti penyedia alat pendingin, penahan banjir, perlengkapan pemadam kebakaran, hingga pangan dan asuransi. Perusahaan-perusahaan ini meraup rata-rata 1,8 miliar dolar Amerika Serikat dan membayar dividen satu miliar dolar Amerika Serikat kepada pemegang saham pada tahun lalu.

Perusahaan pengelola aset besar seperti BlackRock dan Vanguard tercatat memiliki saham di 92 persen perusahaan dalam indeks tersebut dengan total nilai melebihi satu triliun dolar Amerika Serikat. Selain itu, krisis akibat cuaca ekstrem dan perang turut mendongkrak keuntungan perusahaan perdagangan pangan raksasa yang dikuasai para miliarder, dengan peningkatan kekayaan mencapai 120 miliar dolar Amerika Serikat sejak 2020.

Kenaikan harga pangan akibat kekeringan atau banjir dinilai lebih menguntungkan korporasi besar dan investor dibandingkan petani kecil maupun konsumen biasa. Sebagai contoh, harga kakao melonjak hingga 231 persen menyusul cuaca ekstrem di Afrika Barat pada 2024, sementara petani lokal tidak menikmati kenaikan keuntungan tersebut.

Dampak Ketimpangan dan Tuntutan Pajak

Emisi tahunan dari satu persen orang terkaya diproyeksikan memicu 1,9 juta kematian berlebih akibat suhu panas, dengan lebih dari tiga perempat korban terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Negara-negara dan individu kaya cenderung lebih terlindungi dari dampak langsung karena mampu membeli makanan mahal, rumah yang kokoh, serta layanan kesehatan privat.

Salah satu penulis laporan, Alex Maitland, menyebut bahwa para miliarder bukanlah pihak yang pasif dalam krisis ini melainkan mengorkestrasikan situasi melalui pengaruh politik mereka. Menanggapi kondisi tersebut, Oxfam mendesak penerapan pajak yang lebih tinggi bagi orang kaya, jet pribadi, serta perusahaan minyak dan gas.

Pemimpin Kebijakan Perubahan Iklim Oxfam International, Nafkote Dabi, menegaskan bahwa penanganan krisis iklim dapat dilakukan dengan mengendalikan kelompok terkaya, membatasi kekuasaan serta emisi mereka, dan mengenakan pajak atas kekayaan mereka.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *