Kesehatan

Lebih dari 25 Persen Pasien Berbohong Demi Antibiotik

Lebih dari 25 Persen Pasien Berbohong Demi Antibiotik

Lebih dari seperempat pasien di Amerika Serikat sengaja berbohong kepada dokter demi mendapatkan resep antibiotik yang kemungkinan besar tidak mereka butuhkan. Fenomena ini terungkap melalui dua studi baru yang meneliti perilaku pasien dalam memperoleh obat tersebut.

Kebohongan Terkait Gejala Virus

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open pada hari Jumat, tim periset yang dipimpin oleh Alistair Thorpe dari Universitas Utah menganalisis data survei daring dari lebih dari 1.000 orang dewasa. Hasilnya menunjukkan bahwa lebih dari 28 persen responden dewasa dan 27 persen pengasuh anak mengaku pernah berbohong kepada tenaga medis sedikitnya sekali untuk mendapatkan resep antibiotik.

Para pasien melakukan kebohongan dengan cara melebih-lebihkan gejala, mengarang gejala, atau melakukan keduanya sekaligus. Menariknya, kebohongan yang disampaikan justru berkaitan dengan infeksi yang tidak dapat diobati dengan antibiotik. Kebohongan yang paling sering muncul adalah gejala yang diasosiasikan dengan pilek seperti demam, batuk, dan sakit tenggorokan, padahal pilek disebabkan oleh virus bukan bakteri.

Keberhasilan Resep Medis

Di sisi lain, para klinisi merespons situasi tersebut dengan memberikan resep obat meskipun dasar permintaannya meragukan. Sebanyak 77 persen pasien dewasa dan 87 persen pengasuh anak menyatakan bahwa kebohongan yang mereka sampaikan berhasil membuat mereka mendapatkan resep antibiotik yang diinginkan.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa temuan ini mengindikasikan persoalan serius bagi para tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan peresepan antibiotik serta bagi bidang penatagunaan antimikroba dan kesehatan masyarakat.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *