Politik

Donald Trump Dikritik Usai Kaitkan Tragedi 9/11 dengan Politikus Muslim

Donald Trump Dikritik Usai Kaitkan Tragedi 9/11 dengan Politikus Muslim
Daftar Isi
  1. Kecaman dan Respons El-Sayed
  2. Isu Keterkaitan dengan Ikhwanul Muslimin
  3. Reaksi Pendukung dan Gedung Putih

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi gelaman keras setelah membawa-bawa peristiwa 9/11 dalam serangan verbal terhadap Abdul El-Sayed, kandidat Senat AS dari Partai Demokrat di Michigan. Dalam kampanye di negara bagian tersebut pada hari Minggu, Trump menuduh El-Sayed sebagai “seorang jihadis” dan menghadirkan ayah dari salah satu penumpang yang melawan pembajak 9/11 sebagai pembicara tamu.

Kecaman dan Respons El-Sayed

Para kritikus mengecam serangan Trump sebagai tindakan yang bernuansa Islamofobia. El-Sayed sendiri merespons keputusan Trump yang memanggilnya dengan nama tengahnya, Mohamed, dalam sebuah acara kampanyenya. El-Sayed menyatakan bahwa ia akan menjadi Senator Mohamed jika terpilih.

Senator Bernie Sanders, yang hadir mendampingi El-Sayed, mengatakan bahwa penggunaan isu Islamofobia dilakukan karena kubu lawan tidak memiliki program nyata untuk membahas berbagai persoalan mendasar masyarakat. El-Sayed akan berhadapan dengan kandidat dari Partai Republik, Mike Rogers, pada pemilihan 3 November mendatang, di mana kursi tersebut diperebutkan secara ketat karena berpotensi menentukan keseimbangan kekuasaan di Kongres.

El-Sayed, yang lahir di AS dari orang tua asal Mesir dan merupakan mantan pejabat kesehatan publik, akan menjadi Muslim pertama yang terpilih duduk di Senat AS jika ia memenangkan kursi tersebut. Ia telah berulang kali membantah berbagai tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan menegaskan tidak memiliki hubungan dengan kelompok ekstremis.

Isu Keterkaitan dengan Ikhwanul Muslimin

Serangan terhadap El-Sayed berpusat pada upaya lawannya yang mencoba mengaitkan dirinya dengan Ikhwanul Muslimin, organisasi Islam yang didirikan di Mesir dan sebagian cabangnya telah ditetapkan Trump sebagai Organisasi Teroris Asing. Sejumlah sorotan mengarah pada tulisan-tulisan lama dari keluarga El-Sayed serta artikel opini yang ia tulis di Huffington Post pada tahun 2011.

El-Sayed telah membantah keterkaitannya dengan Ikhwanul Muslimin dan menekankan loyalitasnya kepada Amerika Serikat. Ketika ditanya dalam sebuah acara apakah ia mau mendatangkan penolakan terhadap organisasi tersebut, ia menjawab secara tegas bahwa ia akan melakukannya.

HA Hellyer, seorang peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI) yang merupakan ahli mengenai Mesir, menyatakan kepada BBC bahwa polemik tersebut lebih berkaitan dengan sentimen Islamofobia di kalangan politik sayap kanan AS dibandingkan posisi resmi pemerintahan Trump terhadap Ikhwanul Muslimin.

Reaksi Pendukung dan Gedung Putih

Kecaman atas pernyataan Trump juga datang dari salah satu tokoh pendukung utamanya menjelang pemilihan presiden 2024, Bishara Bahbah. Bahbah menilai pernyataan tersebut sudah melewati batas dan bersifat rasis.

Sementara itu, juru bicara Gedung Putih Davis Ingle membantah tuduhan Islamofobia dan menyatakan bahwa El-Sayed mengusung kebijakan yang merugikan, seperti menaikkan pajak serta melarang kendaraan berbahan bakar bensin. Ingle menegaskan bahwa Trump akan terus menyoroti ekstremis secara terbuka tanpa permintaan maaf.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *