Kesehatan

Mempertanyakan Ulang Masa Lalu Lewat Diagnosis Medis

Mempertanyakan Ulang Masa Lalu Lewat Diagnosis Medis

Sebuah esai karya penulis yang dimuat di Kenyon Review mengupas pertanyaan mendalam tentang sejauh mana sebuah diagnosis medis seharusnya mengubah persepsi seseorang terhadap masa lalu keluarganya. Tulisan ini berakar dari pengalaman pribadi penulis dalam merawat ibunya yang menderita demensia dan Alzheimer tingkat lanjut.

Dilema Antara Penyakit dan Kepribadian Asli

Selama bertahun-tahun sebelum diagnosis demensia ditegakkan ketika sang ibu berusia awal lima puluhan, penulis dan saudara perempuannya, Jess, hidup dalam jarak emosional dengan ibu mereka. Sang ibu digambarkan sebagai sosok yang dingin, sering marah, apatis, dan tidak acuh terhadap anak-anaknya. Namun, setelah diagnosis tersebut muncul, sang ayah menyampaikan sebuah argumen bahwa gejala Alzheimer, termasuk perubahan kepribadian, dapat mulai muncul hingga dua dekade sebelum diagnosis resmi diberikan.

Ayah mereka berupaya meyakinkan anak-anaknya bahwa mereka sebenarnya hidup bersama orang yang sedang sakit, sehingga penulis terjebak dalam permainan mental yang disebutnya sebagai “penyakit atau tabiat”. Penulis mempertanyakan apakah berbagai perilaku negatif sang ibu—mulai dari tidak memiliki teman, kemarahan yang meledak-ledak, hingga komentar-komentar yang menyakitkan—murni disebabkan oleh kemunduran neurologis atau memang karakter aslinya.

Menghadapi Realitas dan Perawatan Penuh Tantangan

Selama pandemi, penulis sempat kembali ke rumah orang tuanya dan menyaksikan langsung bagaimana kondisi sang ibu semakin memburuk. Sang ibu kini menghabiskan waktu berbicara dengan boneka-boneka, tidak bisa menyikat gigi sendiri, dan kerap membuang gulungan tisu toilet sembarangan di seluruh penjuru rumah. Di tengah kesibukan sang ayah merawat istrinya, penulis dan adiknya secara bergantian kembali ke rumah untuk membantu meringankan beban pengasuhan tersebut, terutama menjelang kunjungan ayah mereka ke luar negeri.

Meskipun orang-orang di luar keluarga kerap menawarkan belasungkawa dan berasumsi bahwa sang ibu dulunya adalah orang yang sangat baik dan manis sebelum sakit, penulis dan adiknya menegaskan bahwa hubungan mereka tidak pernah hangat. Bahkan, pengasuh di rumah pun kebingungan menghadapi sikap sang ibu yang kini sering marah atau mengusir orang. Penulis menyadari bahwa berinteraksi dengan ibunya kini justru terasa lebih mudah karena ia telah beralih ke sikap objektif tanpa rasa sakit hati personal.

Pada akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa mencoba menebak-nebak versi masa lalu yang berbeda adalah hal yang sia-sia karena realitas yang ada adalah apa yang telah dialami. Perasaan marah atas masa kecil yang kurang mendapatkan kehangatan tetap ada, terlepas dari apakah hal itu disebabkan oleh penyakit atau faktor lain. Dengan merelakan perlawanan terhadap emosi tersebut, penulis memilih untuk fokus menjalankan peran sebagai perawat dengan penuh kebaikan tindakan nyata.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *