Daftar Isi
Pemimpin oposisi dan peraih Nobel María Corina Machado kembali muncul di Venezuela pada Minggu untuk pertama kalinya sejak Desember, sekembalinya dari masa pengasingan di tengah meningkatnya keraguan terhadap masa depan demokrasi negara tersebut serta peran Amerika Serikat. Kemunculan ini menandai kali pertama ia kembali sejak militer AS menggulingkan mantan Presiden Nicolás Maduro pada Januari dan menempatkan presiden sementara yang telah melampaui masa jabatan yang diizinkan tanpa adanya jadwal pemilihan umum.
Kepulangan Disambut Pendukung
Machado mengumumkan kedatangannya melalui media sosial dengan menuliskan pernyataan bahwa ia telah hadir bersama para pendukungnya. Tokoh oposisi terkemuka lainnya, Edmundo González, turut menulis di platform X untuk mengonfirmasi kedatangan Machado dan menyatakan akan berada di sisinya dalam waktu dekat. Pada Minggu sore, Machado melangkah masuk ke dalam sebuah gereja di negara bagian Lara, sebelah barat Caracas, disambut tepuk tangan, jabat tangan, serta pelukan dari puluhan warga yang merekam kepulangannya menggunakan ponsel.
Sejumlah warga meneriakkan yel-yel kebebasan dan menyambut kepulangannya, sementara sebagian pendukung lainnya terlihat menangis terharu. Setelah meninggalkan gereja tersebut, Machado melanjutkan perjalanan menuju Caracas dengan beberapa pemberhentian di sepanjang jalan di mana warga mendatangi kendaraannya. Ketika dimintai tanggapan oleh para wartawan mengenai kepulangan Machado, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia tidak mengetahui hal tersebut, namun memuji Machado sebagai sosok perempuan yang sangat baik yang pernah memberikan penghargaan Nobel kepadanya, serta berharap ia berada dalam kondisi yang aman.
Pemerintahan Transisi dan Tuntutan Pemilu
Semenjak kejatuhan Maduro, Pelaksana Tugas Presiden Delcy Rodríguez yang merupakan sekutu lama Maduro menjalankan pemerintahan Venezuela dengan restu dari pemerintahan Trump. Rodríguez awalnya dijadwalkan menjabat sebagai pelaksana tugas presiden selama 90 hari, namun ia tetap menduduki jabatan tersebut tanpa mengambil langkah untuk menggelar pemilu. Machado sebelumnya sempat ditahan sebentar pada Januari 2025 usai aksi protes terhadap rencana pelantikan Maduro, sebelum kemudian bersembunyi di Venezuela selama 11 bulan dan melarikan diri secara rahasia ke Norwegia untuk menerima Nobel Perdamaian atas perlawanannya terhadap pemerintahan otoriter Maduro.
Machado bersama para sekutunya secara konsisten menuntut kepastian tanggal pemilihan umum presiden di Venezuela, sementara para pejabat AS lebih menekankan pentingnya stabilisasi ekonomi terlebih dahulu. Pada Oktober 2023, Machado memenangkan pemilihan pendahuluan oposisi untuk maju dalam pilpres 2024 sebelum pemerintah melarangnya mencalonkan diri. González kemudian menggantikan posisinya di surat suara dan bukti-bukti kredibel menunjukkan ia mengalahkan Maduro dengan selisih suara lebih dari dua kali lipat, namun Dewan Pemilihan Nasional yang dikuasai loyalis partai berkuasa justru mendeklarasikan Maduro sebagai pemenang.
Upaya Kepulangan dan Sikap Internasional
Periode menjelang dan setelah pemilu diwarnai oleh represi pemerintah yang meluas, termasuk penghilangan paksa, penyiksaan, dan pelanggaran hak asasi manusia, dengan lebih dari 2.000 orang ditahan aparat. Pada Januari, militer AS menangkap Maduro di Caracas dan membawanya ke New York untuk menghadapi tuduhan terkait narkoba yang telah ia sangkal. Pihak partai Machado menyebutkan bahwa ia sempat melakukan tujuh kali percobaan kepulangan yang gagal, termasuk pembatalan perjalanan kapal carter dan penolakan izin pendaratan pesawatnya di Karibia.
Para aktivis oposisi menuduh pemerintah Venezuela menghalangi kepulangan Machado, sementara otoritas setempat membantah tuduhan tersebut. Di sisi lain, para pejabat pemerintahan Trump membantah menahan kepulangan Machado tetapi mengaku pernah menyarankannya untuk tidak kembali karena alasan keselamatan. Mahkamah Agung Venezuela sebelumnya menyatakan Rodríguez dapat menjabat hingga 90 hari yang dapat diperpanjang oleh Majelis Nasional, namun majelis yang dikuasai partai berkuasa itu tidak pernah melakukan pemungutan suara untuk memperpanjang masa jabatannya. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio berpendapat bahwa Venezuela harus menstabilkan ekonominya dan memulihkan institusinya sebelum mengadakan pemilu baru, kendati ia menyatakan bahwa Machado memiliki hak penuh untuk memasuki negaranya kapan pun ia ingin kembali.
Sumber: US Top News and Analysis







