Sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama laju pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga kuartal III-2026. Capaian ini antara lain didorong oleh peningkatan kinerja ekspor industri minyak sawit, bahan kimia, hingga logam dasar.
Kinerja Industri Pengolahan dan Sektor Lainnya
Ketika ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan, sektor industri pengolahan mampu melaju hingga 5,87 persen. Sektor ini memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yakni mencapai 19,22 persen.
Meski demikian, jika dilihat dari sisi laju pertumbuhan, angka tertinggi dicatatkan oleh sektor akomodasi serta penyediaan makan dan minum yang tumbuh 11,22 persen, walaupun porsi kontribusinya terhadap PDB sebesar 2,75 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Moh. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa penguatan pada sektor manufaktur tersebut dipicu oleh permintaan dari pasar domestik maupun mancanegara. Hal itu ia sampaikan saat konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Faktor Pendorong Subsektor Pengolahan
Di dalam lingkup industri pengolahan, subsektor industri makanan dan minuman berhasil tumbuh 7,09 persen. Peningkatan tersebut ditopang oleh maraknya ekspor Crude Palm Kernel Oil (CPKO) dan turunan CPO, serta naiknya penggunaan CPO di dalam negeri untuk pembuatan biodiesel.
Subsektor industri kimia, farmasi, dan obat tradisional turut mengalami kenaikan sebesar 8,10 persen. Kinerja ini didorong oleh peningkatan produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) seiring dengan diterapkannya kewajiban mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026, serta naiknya produksi pupuk dalam menghadapi musim tanam.
Sementara itu, subsektor industri logam dasar mencatatkan pertumbuhan hingga 9,94 persen. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya volume ekspor produk logam dasar bukan besi dan baja, seperti katoda tembaga, nickel matte, serta aluminium.








