Dunia

Raja Charles III Hadapi Tur Karibia Paling Berisiko

Raja Charles III Hadapi Tur Karibia Paling Berisiko
Daftar Isi
  1. Risiko Moral dan Protes
  2. Bayang-bayang Tur Sebelumnya
  3. Bersaing dengan Berbagai Distraksi

Kunjungan Raja Charles III ke kawasan Karibia dimulai pada hari Selasa (22/10) mencakup tiga negara dalam sembilan hari, yaitu Bahama, Guyana, dan Antigua dan Barbuda untuk menghadiri Pertemuan Kepala Pemerintahan Persemakmuran (Chogm). Perjalanan ini membawa sang penguasa langsung ke tengah perdebatan sengit mengenai pembayaran reparasi serta pertanyaan seputar permintaan maaf atas peran Inggris dalam perdagangan budak di masa lalu.

Risiko Moral dan Protes

Menurut sejarawan Sir Anthony Seldon seperti dilaporkan BBC News Indonesia, perjalanan ini merupakan risiko terbesar dari masa kepemimpinan sang raja sejauh ini karena banyak hal berada di luar kendalinya. Pertanyaan mengenai perbudakan, reparasi, dan permintaan maaf membuat integritas moral monarki dipertanyakan. Raja Charles dijadwalkan menyampaikan tiga pidato penting dalam lawatan ini dengan mengikuti arahan pemerintah untuk tidak mengeluarkan permintaan maaf resmi.

Seorang pembantu senior kerajaan menyatakan bahwa sang raja tidak akan menghindari hari-hari kelam masa lalu, tetapi menegaskan bahwa keputusan mengenai permintaan maaf dan reparasi sepenuhnya merupakan ranah pemerintah. Pihak Istana Buckingham menyampaikan bahwa pengakuan atas kesalahan masa lalu akan dimasukkan ke dalam program sang raja di ketiga negara. Kendati demikian, isu tersebut menjadi bahan bagi para aktivis dan aksi protes diperkirakan akan terjadi.

Bayang-bayang Tur Sebelumnya

Memori mengenai kunjungan tur senior kerajaan ke Karibia pada awal tahun 2022 masih membayangi pihak istana. Saat itu, Pangeran William dan Kate Middleton menghadapi kritik atas optik kunjungan ketika menyapa anak-anak Jamaika melalui pagar kawat, sementara beberapa agenda terpaksa dibatalkan akibat protes. Segala persiapan telah dilakukan untuk menghindari kesalahan serupa dalam tur Karibia.

Pemimpin di Bahama, Guyana, serta Antigua dan Barbuda akan menyambut sang raja terkait perannya dalam melindungi hutan hujan dan memperkuat hubungan perdagangan. Namun, hal tersebut terjadi di tengah gelombang perubahan di mana para pemimpin ketiga negara mendukung keadilan reparatif. Di Antigua dan Barbuda serta Bahama, wacana untuk menjadi republik mendapat dukungan luas dengan pejabat terpilih di salah satu negara tersebut tidak lagi harus mengucapkan sumpah setia kepada raja.

Bersaing dengan Berbagai Distraksi

Tur ini juga harus bersaing dengan berbagai gangguan domestik di Inggris, termasuk kembalinya Pangeran Harry dan Meghan Markle yang menyita perhatian publik. Selain itu, memoar Earl Spencer yang mengkritik tanggapan Raja Charles terhadap kematian Putri Diana turut memicu tanggapan keras dari pihak istana. Di sisi lain, politisi David Lammy menilai kunjungan ini sangat berarti bagi negara kecil seperti Guyana. Lammy menyatakan bahwa meskipun terdapat dinamika politik yang hidup dan potensi perbedaan pendapat, sambutan positif secara umum tetap akan diberikan. Rangkaian jadwal yang padat ini dijalani sang raja di usianya yang mendekati 78 tahun di tengah perawatan kanker yang sedang dijalaninya, sementara Permaisuri Camilla akan mendampingi pada bagian kunjungan di Antigua dan Barbuda.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *