Undang-Undang Hak Penyewa (*Renters’ Rights Act*) di Inggris yang mulai berlaku pada bulan Mei lalu membawa perubahan besar bagi pasar sewa mahasiswa. Kebijakan ini memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk mengakhiri masa sewa lebih awal, namun di sisi lain memicu peringatan dari para pemilik properti terkait potensi lonjakan harga sewa.
Fleksibilitas Baru bagi Mahasiswa
Undang-undang tersebut menghapus sewa berjangka waktu tetap (*fixed-term tenancies*) yang sebelumnya mengikat penyewa selama jumlah bulan tertentu. Khusus untuk mahasiswa di Inggris, kontrak sewa kini menggunakan sistem berkala di mana pembayaran dilakukan mingguan atau bulanan tanpa tanggal akhir yang tetap, kecuali untuk asrama universitas dan akomodasi khusus mahasiswa (*Purpose-Built Student Accommodation*) yang tetap dikecualikan.
Eddie Lever, seorang mahasiswa berusia 20 tahun di Universitas Exeter, merasakan langsung dampak aturan ini ketika ia memutuskan pindah untuk mempelajari hubungan internasional di Universitas York. Berkat aturan baru tersebut, Eddie hanya perlu memberikan pemberitahuan dua bulan sebelum keluar dari rumah sewanya dan menghentikan pembayaran tanpa harus terikat kontrak setahun penuh, seperti dilaporkan BBC News.
Menurut Eddie, tanpa adanya undang-undang tersebut, perpindahan universitas akan menjadi hal yang tidak terjangkau secara finansial baginya akibat ikatan kontrak penuh. Lewis Wilson selaku wakil presiden pendidikan tinggi di Persatuan Mahasiswa Nasional (*National Union of Students*) menyatakan bahwa fleksibilitas ini juga memungkinkan mahasiswa menghemat uang sewa dengan pulang ke rumah selama musim panas.
Tantangan dan Kekhawatiran Pemilik Properti
Di sisi lain, aturan penghapusan kontrak tetap menimbulkan ketidakpastian bagi para pemilik properti sewaan. Chris Norris selaku kepala pejabat kebijakan di Asosiasi Pemilik Properti Residensial Nasional (*National Residential Landlords Association*) menjelaskan bahwa risiko utama bagi pemilik adalah mahasiswa yang keluar lebih awal akibat putus kuliah atau berselisih dengan rekan sekamar.
Norris menyebutkan bahwa kondisi ini berpotensi membuat rumah sewaan kosong selama musim panas atau bahkan lebih awal, serta menyulitkan pemilik untuk menyewakan kembali properti dalam jangka waktu singkat. Sebagai antisipasi, sebagian pemilik properti dikhawatirkan akan menaikkan harga sewa bulanan untuk menutupi risiko kekosongan, atau bahkan menjual properti dan berhenti menyewakan kepada mahasiswa.
Sue Lawes, seorang pemilik tiga rumah sewa bersama untuk mahasiswa di Norwich, mengaku khawatir dengan perubahan aturan tersebut. Meski tidak ingin menaikkan harga, ia terpaksa mempertimbangkan langkah tersebut atau memajukan awal perjanjian sewa ke bulan Agustus jika propertinya kosong akibat mahasiswa mengakhiri sewa setelah ujian akhir.
Sue menyatakan bahwa para pemilik properti akan kesulitan menanggung biaya saat properti kosong untuk menutup cicilan hipotek, pajak dewan, dan tagihan utilitas. Ia berharap pemilik properti diizinkan untuk menawarkan kontrak berjangka tetap kepada mahasiswa yang disesuaikan dengan tahun akademik guna mencegah kekosongan properti.
Sumber: BBC News







