Peringatan dari mendiang jurnalis asal Inggris, Dom Phillips, mengenai ancaman rezim Jair Bolsonaro terhadap jurnalis dan hutan hujan Amazon kembali menjadi sorotan di tengah kontestasi politik Brasil. Sebelum dibunuh, Phillips telah menuliskan prediksi tajam mengenai bahaya ekstrem dari keluarga Bolsonaro bagi masa depan demokrasi dan lingkungan di negara tersebut.
Prediksi Awal dan Kekhawatiran
Menjelang pemilihan presiden Brasil pada 2018 yang dimenangkan oleh mantan kapten angkatan darat dari sayap kanan, Jair Bolsonaro, Phillips mengungkapkan kekhawatirannya melalui pesan pribadi kepada Environment | The Guardian. Saat itu, kontributor tersebut menyatakan bahwa Bolsonaro beserta para pendukungnya menunjukkan seluruh tanda fasisme dan menilai anak-anak sang presiden jauh lebih ekstrem lagi.
Phillips bukanlah seorang pendukung buta kelompok kiri, karena ia sempat mendukung kandidat tengah-kanan Aécio Neves akibat kekhawatirannya terhadap korupsi di masa pemerintahan Partai Pekerja sebelumnya. Kendati demikian, ia memandang keluarga Bolsonaro sebagai ancaman nyata bagi tata kelola pemerintahan yang baik serta keselamatan planet bumi.
Menjelang pemungutan suara putaran pertama pada 2018, Phillips menuliskan bahwa ia tidak pernah merasa separah itu terhadap masa depan Brasil. Ia menggambarkan suasana saat itu sebagai pemberian izin bebas untuk menyerang siapa saja yang tidak sejalan dengan kelompok Bolsonaro.
Tidak lama berselang, ia mengamati permusuhan terhadap media yang semakin meningkat dalam konferensi pers Bolsonaro yang dipenuhi oleh pendukung sayap kanan. Suasana tersebut dinilainya sebagai masa-masa yang mencekam, di mana kebohongan bertebaran, wacana daring semakin mengeras, dan kekerasan dianggap sebagai sesuatu yang dapat diterima.
Dampak Kebijakan dan Tragedi
Laporan-laporan Phillips untuk The Guardian selama masa pemerintahan Bolsonaro membuktikan ketakutannya mengenai lonjakan kematian dan kerusakan lingkungan. Penanganan yang buruk terhadap krisis Covid-19 menyumbang lebih dari 704.000 kematian, sementara masa jabatan Bolsonaro mencatatkan rekor tingkat deforestasi tertinggi di Amazon.
Pada Agustus 2019, Phillips menyebut klaim pemerintah yang menyatakan sedang menyelamatkan hutan sebagai hal yang mencengangkan, terutama di tengah rancangan undang-undang dari Flávio Bolsonaro untuk menghapus cadangan hukum. Phillips sendiri sempat menjadi sasaran serangan media sosial setelah secara sopan bertanya kepada presiden mengenai deforestasi Amazon, yang dijawab secara ketus oleh Bolsonaro bahwa Amazon adalah milik Brasil dan bukan miliknya.
Selama periode kepemimpinan Bolsonaro antara 2019 hingga 2022, luas hutan Amazon yang hilang mencapai 45.000 kilometer persegi atau 17.400 mil persegi, yang meningkat 59,5 persen dibanding empat tahun sebelumnya. Namun, Phillips tidak sempat melaporkan keseluruhan data tersebut karena ia dibunuh bersama pakar adat Bruno Pereira pada 5 Mei 2022 di dekat wilayah adat Lembah Javari saat sedang melakukan riset untuk buku mengenai cara menyelamatkan Amazon.
Pelaku yang mengaku membunuh mereka adalah seorang nelayan bernama Amarildo da Costa de Oliveira, yang disebut merasa terganggu dengan upaya Bruno menghentikan invasi ilegal ke wilayah adat yang didorong oleh pelemahan perlindungan lingkungan oleh pemerintah. Di sisi lain, Jair Bolsonaro sendiri kehilangan kekuasaannya pada tahun yang sama dan kemudian dihukum karena berupaya melakukan kudeta militer untuk membatalkan hasil pemilu.
Kini, kekhawatiran kembali muncul menjelang pemilihan presiden putaran kedua di mana Flávio Bolsonaro, salah satu putra Bolsonaro, diunggulkan dalam jajak pendapat melawan petahana Luiz Inácio Lula da Silva. Situasi ini membuat masa depan perlindungan lingkungan dan penegakan hukum di Amazon kembali berada dalam ketidakpastian.
Sumber: Environment | The Guardian







