Dunia

AS, Rusia, dan China Berlomba Bangun Reaktor Nuklir di Bulan

AS, Rusia, dan China Berlomba Bangun Reaktor Nuklir di Bulan
Daftar Isi
  1. Target Waktu dan Spesifikasi Reaktor
  2. Kendala Sejarah dan Alasan Penggunaan Nuklir
  3. Persaingan Geopolitik dan Risiko

Amerika Serikat, Rusia, dan China tengah bersaing untuk membangun reaktor nuklir di bulan demi menaklukkan luar angkasa. Ambisi besar negara-negara adidaya tersebut berjalan di tengah peringatan para ilmuwan mengenai potensi bahaya kecelakaan radioaktif.

Target Waktu dan Spesifikasi Reaktor

Berdasarkan laporan Al Jazeera pada Minggu (8/11/2026), NASA berencana mendirikan reaktor nuklir di bulan pada penghujung tahun 2030. Di sisi lain, Rusia bersama China menetapkan target penyelesaian proyek pangkalan bertenaga nuklir pada tahun 2036.

Keberadaan reaktor tersebut sangat penting untuk mengoperasikan fasilitas penambangan air beku di dalam kawah bulan. Kalangan ilmuwan mempercayai es tersebut mampu menyediakan kebutuhan air minum, udara, serta bahan bakar roket untuk pangkalan masa depan.

NASA merancang Lunar Reactor 1 dengan bobot di bawah 6.000 kg guna menghasilkan pasokan listrik mandiri sebesar 20 kilowatt. Sementara itu, reaktor Selena buatan Rusia dibuat jauh lebih ringan, yakni antara 1.100 hingga 1.300 kg agar proses pendaratan berjalan lebih lancar.

Kendala Sejarah dan Alasan Penggunaan Nuklir

Pemerintah Amerika Serikat telah menggelontorkan dana sebesar US$ 20 miliar atau setara Rp360 triliun untuk program nuklir luar angkasa selama tujuh dekade terakhir. Kendati demikian, mereka belum pernah sukses menerbangkan reaktor ke luar angkasa sejak uji coba singkat selama 43 hari yang berakhir pada 1965.

Sebelumnya, pemanfaatan energi nuklir hanya pernah berhasil dijalankan oleh Uni Soviet dari akhir dekade 1960-an hingga 1980-an. Uni Soviet menerbangkan lebih dari 30 reaktor fisi nuklir ringan ke orbit bumi guna memberi daya pada satelit mata-mata di masa Perang Dingin.

Energi nuklir kembali menjadi pilihan utama karena panel surya dinilai memiliki keterbatasan serta efisiensi yang rendah di bulan. Direktur Nuclear Futures Institute Bangor University Simon Middleburgh menyatakan bahwa tenaga nuklir adalah opsi yang paling masuk akal saat ini.

“Pilihan yang jelas, (namun) harus digunakan secara bertanggung jawab,” tuturnya, seperti dilaporkan CNBC Indonesia.

Simon Middleburgh menambahkan bahwa hambatan terbesar bukanlah pada teknologi nuklirnya, melainkan perizinan peluncuran, ketersediaan wahana peluncur, serta proses pendaratan dan instalasi sistem.

Persaingan Geopolitik dan Risiko

Kompetisi geopolitik ini semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menginstruksikan NASA pada Desember 2025 untuk segera merealisasikan pembangunan reaktor tersebut. Menteri Transportasi AS Sean Duffy pada Agustus lalu juga secara terbuka menyinggung ketatnya persaingan tersebut.

“Berlomba menuju bulan, dalam perlombaan dengan China,” paparnya.

Sejumlah analis telah mengingatkan ancaman fatal jika reaktor yang aktif jatuh kembali ke bumi seperti peristiwa jatuhnya satelit Kosmos 954 pada 1978. Walau demikian, Simon Middleburgh berpandangan bahwa pencemaran radioaktif hanya berdampak sangat lokal seandainya insiden terjadi di permukaan bulan.

Dari sisi regulasi, Traktat Luar Angkasa 1967 melarang setiap negara untuk menguasai wilayah bulan, namun tidak melarang pemanfaatan nuklir. Ilmuwan Senior Planetary Science Institute Norbert Schorghofer mengonfirmasi kebebasan hak eksplorasi bagi negara yang menandatangani perjanjian tersebut.

“Memiliki hak untuk menambang permukaan bulan selama itu untuk tujuan damai,” ucapnya.

Negara yang paling cepat mendaratkan reaktor di lokasi cadangan es berpotensi mendirikan “zona aman” secara sepihak. Situasi ini diprediksi bakal menghalangi akses negara lain karena tidak ada pihak yang berani mendekati kawasan radioaktif milik kompetitor.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *