Ekonomi

Nasdaq dan S&P 500 Menguat Usai Gejolak Saham Teknologi

Nasdaq dan S&P 500 Menguat Usai Gejolak Saham Teknologi
Daftar Isi
  1. Pemulihan Saham Teknologi dan Rekapitulasi Sektor
  2. Data Tenaga Kerja dan Sentimen Konsumen AS
  3. Keluarnya Microsoft dari Kesepakatan Kapasitas Komputasi
  4. Guncangan di Bursa Global dan Sektor Energi

Pasar saham Amerika Serikat ditutup bervariasi pada akhir pekan yang bergejolak, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite berhasil menguat setelah sempat tertekan aksi jual hebat di sektor teknologi. Penguatan ini didorong oleh aksi beli investor terhadap saham-saham semikonduktor yang sebelumnya terkoreksi tajam.

Indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan 0,31 persen ke level 7.376,86, sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi melonjak 1,09 persen ke posisi 24.579,42. Sebaliknya, Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 237,33 poin atau 0,46 persen dan ditutup pada posisi 51.285,73.

Pemulihan Saham Teknologi dan Rekapitulasi Sektor

Sektor teknologi informasi memimpin kenaikan pasar pada perdagangan Jumat. Saham Advanced Micro Devices (AMD) melesat 9 persen setelah sebelumnya merosot 17,3 persen, sementara Intel menguat hampir 7 persen. Saham pembuat chip ternama seperti Nvidia dan Marvell Technology masing-masing terangkat lebih dari 4 persen, sedangkan Qualcomm serta Micron Technology bertambah lebih dari 5 persen.

Kendati mengalami pemulihan harian, sektor teknologi masih mencatatkan minggu yang berat. Dana yang melacak sektor ini, Technology Select Sector SPDR Fund (XLK), merosot 8 persen sepanjang pekan ini dan mencatatkan penurunan mingguan kelima berturut-turut. Penurunan tersebut menjadi kinerja mingguan terburuk bagi dana tersebut sejak April 2025.

Aksi jual yang terjadi sebelumnya juga sempat menggerus nilai pasar kelompok saham raksasa “Magnificent Seven” hingga lebih dari 1 triliun dolar AS dalam satu hari. Nvidia memimpin kerugian tersebut dengan kehilangan nilai kapitalisasi pasar lebih dari 440 miliar dolar AS, sementara saham Tesla merosot 10,8 persen.

Data Tenaga Kerja dan Sentimen Konsumen AS

Pasar mendapat dorongan dari rilis data ketenagakerjaan AS bulan Oktober yang melampaui perkiraan. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan penambahan 165.000 lapangan kerja non-pertanian, jauh di atas estimasi konsensus Dow Jones sebesar 59.000. Tingkat pengangguran di AS juga sedikit menurun menjadi 4,1 persen.

Di sisi lain, hasil survei konsumen Universitas Michigan menunjukkan peningkatan optimisme ekonomi menjadi 51,0 pada November, naik 6,3 persen dari bulan sebelumnya. Direktur survei Joanne Hsu menjelaskan kepada CNBC bahwa meskipun optimisme meningkat pada kelompok berpendapatan rendah dan menengah, kekhawatiran terhadap biaya hidup tetap menjadi fokus utama masyarakat, di samping munculnya kecemasan terkait potensi gelembung teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dinamika politik turut memengaruhi pergerakan pasar. Presiden Donald Trump menegaskan dukungannya terhadap pengembangan kecerdasan buatan melalui unggahan di platform Truth Social. Ia menyatakan bahwa teknologi AI sangat krusial bagi perekonomian dan berjanji akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mendukung pertumbuhannya.

Keluarnya Microsoft dari Kesepakatan Kapasitas Komputasi

Di ranah korporasi, Microsoft dilaporkan menghentikan kesepakatan penyewaan kapasitas komputasi AI dari Oracle setelah membiarkan kontraknya berakhir, sebagaimana diberitakan Bloomberg. Menurut sumber yang dikutip CNBC, Microsoft juga mempertimbangkan untuk mengurangi kerja sama dengan penyedia neocloud independen dan berfokus membangun infrastruktur miliknya sendiri.

Penyesuaian ini terjadi di tengah tekanan finansial pada perusahaan skala kecil penyedia komputasi AI. Firma analisis Gartner memproyeksikan bahwa hingga 80 persen penyedia neocloud dapat berhenti beroperasi secara independen pada 2030. Menanggapi kabar tersebut, saham Oracle terkoreksi 2 persen pada sesi perdagangan Jumat.

Dalam analisis terpisah, Bank of America menilai aksi jual saham AI baru-baru ini lebih dipicu oleh penyesuaian kelipatan valuasi pasar yang terlampau tinggi ketimbang penurunan prospek laba bersih perusahaan. Sementara itu, William de Gale dari Blue Box Asset Management menyampaikan kepada CNBC bahwa pasar sedang mengalibrasi ulang ekspektasi pertumbuhan AI ke tingkat yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Guncangan di Bursa Global dan Sektor Energi

Aksi jual saham teknologi di Wall Street sebelumnya berdampak signifikan terhadap bursa Asia-Pasifik dan Eropa. Indeks Nikkei 225 Jepang merosot 5,96 persen dan masuk ke wilayah pasar beruang (bear market), sedangkan indeks Kospi Korea Selatan anjlok lebih dari 6 persen setelah sempat memicu penghentian sementara perdagangan (circuit breaker). Saham produsen semikonduktor Asia seperti SK Hynix, Samsung Electronics, dan TSMC mengalami penurunan tajam.

Di Eropa, indeks pan-Eropa Stoxx 600 melemah 1,7 persen dan mencatatkan sesi perdagangan terburuk sejak Maret. Meski demikian, produsen truk Jerman Daimler Truck melaporkan kenaikan laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) sebesar 89 persen secara tahunan menjadi 1,05 miliar euro, ditopang pemulihan penjualan di pasar Amerika Utara.

Sementara itu, sektor energi menjadi penampil terburuk di S&P 500 pekan ini dengan penurunan hampir 12 persen. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 12 persen sepanjang pekan ke kisaran 91 dolar AS per barel, sedangkan minyak Brent turun 16 persen ke atas 98 dolar AS per barel. Penurunan harga minyak dipengaruhi oleh ekspektasi pereda ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta prospek diplomasi pascapemilu.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *