Bulan November menjadi periode krusial bagi rugbi Wales saat mereka bersiap menghadapi Jepang di Stadion Principality, Cardiff, pada hari Sabtu (7/11). Pertandingan pembuka ini menandai dimulainya rangkaian empat laga berat di ajang Nations Championship, yang juga akan mempertemukan Wales dengan Selandia Baru dan Australia.
Pertemuan dengan Jepang
Wales akan menghadapi Jepang untuk keempat kalinya dalam 16 bulan terakhir. Tim asuhan pelatih Steve Tandy tersebut telah memenangi dua dari tiga pertemuan sebelumnya sejak bulan Juli 2025, termasuk kemenangan dramatis di Cardiff tahun lalu yang menjadi kemenangan uji coba pertama bagi Tandy.
Tandy saat ini mencatat tiga kemenangan dan sembilan kekalahan dari 12 laga internasional, ditambah satu kemenangan dalam laga non-cap melawan Barbarians. Wales berada di peringkat ke-10 dunia, sementara tiga kemenangan uji coba terakhir mereka diraih saat melawan Fiji, Italia, dan Jepang.
Tandy menyatakan bahwa performa timnya saat ini sudah berada di jalur yang diharapkan, meskipun ia ingin melihat perkembangan yang lebih cepat. “Jika Anda melihat di mana kami berada 12 bulan lalu, anak-anak hanya memenangkan satu dari 26 pertandingan. Sekarang kami mulai menang lagi, dengan empat kemenangan dalam 13 pertandingan,” ujarnya.
Kapten tim Dewi Lake menambahkan bahwa skuad Wales berada dalam kondisi terbaik menjelang turnamen ini. Jepang sendiri datang dengan kekuatan lini depan yang tangguh meski harus mengandalkan pilihan ketiga untuk posisi *fly-half* dan *number eight*.
Kebijakan Pemilihan Pemain dan Isu Penonton
Tandy memanggil rekor 12 pemain dari klub-klub Inggris dalam skuad berisi 23 pemain, dengan sembilan di antaranya masuk dalam susunan *XV* utama. Para pemain yang berkarier di Liga Primer Inggris seperti Nicky Smith, Jac Morgan, Aaron Wainwright, dan Dewi Lake menyebut bahwa performa mereka meningkat sejak bergabung dengan klub-klub tersebut.
Selain performa di lapangan, perhatian juga tertuju pada jumlah penonton di Stadion Principality menyusul rekor kehadiran terendah dalam beberapa laga terakhir. Asosiasi Rugbi Wales (WRU) sangat bergantung pada tiket pertandingan internasional pria untuk separuh dari total pendapatan mereka, terutama setelah WRU mengumumkan kerugian sebesar 18 juta poundsterling bulan lalu.
Para pemain Wales, termasuk Louis Rees-Zammit, telah menggunakan media sosial untuk membagikan tautan tiket. Lake berharap penampilan tim di lapangan dapat kembali memikat para suporter untuk memenuhi stadion.
Kondisi Internal WRU
Tantangan di luar lapangan juga mencakup rendahnya kepercayaan publik terhadap tata kelola WRU. Di satu sisi, dewan pengurus berencana memangkas jumlah tim profesional menjadi dua pada tahun 2028 dengan memberikan lisensi kepada Cardiff dan Dragons, sementara Ospreys dan Scarlets harus bersaing untuk mendapatkan lisensi wilayah barat Wales hingga keputusan akhir pada musim panas 2027.
Di sisi lain, ketua baru WRU Lyndon Faulkner menyatakan akan meninjau kembali seluruh rencana, termasuk opsi mempertahankan empat tim profesional. WRU juga berupaya memasukkan dua tim ke dalam turnamen Anglo-Welsh, yang memicu kebingungan publik terkait masa depan kompetisi dan klub.
Rapat umum tahunan (AGM) dijadwalkan berlangsung sehari setelah pertandingan Wales melawan Australia, diikuti oleh KTT rugbi pada bulan Desember untuk memberikan kejelasan kepada para pendukung. Pertandingan pembuka melawan Jepang diharapkan mampu memberikan awal yang positif bagi bulan yang menentukan bagi masa depan rugbi Wales.
Sumber: BBC Sport







