Daftar Isi
Kekalahan Partai Republik dalam pemilu sela Amerika Serikat memicu perdebatan internal mengenai kebijakan luar negeri pemerintahan Trump. Para pemilih menunjukkan ketidakpuasan terhadap keterlibatan AS dalam perang melawan Iran serta dukungan terhadap tindakan Israel di Gaza dan Lebanon, yang dinilai berdampak langsung pada kenaikan biaya hidup di dalam negeri.
Kritik terhadap Kebijakan Luar Negeri
Wakil Presiden JD Vance melalui platform X menyatakan bahwa penyebab kekalahan partainya sudah jelas bagi banyak pihak. Ia menyoroti perang melawan Iran yang memicu lonjakan harga bahan bakar dan menelan biaya sebesar 47 miliar dolar AS. Banyak pemilih merasa pemerintahan Trump terpengaruh oleh pemerintah Benjamin Netanyahu untuk meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari, meskipun klaim bahwa Iran hampir memiliki senjata nuklir tidak disertai bukti.
Menurut seorang analis dari lembaga pemikir Chatham House, Andrew Payne, kepada Al Jazeera, para pemilih mungkin tidak memikirkan detail konflik secara spesifik, namun mereka menghubungkan perang tersebut dengan kenaikan biaya hidup. “Voters may not have been thinking about the specific details of the conflict, but they connected the war with the rise of the cost of living in the United States, and punished Republicans for it,” ujar Payne.
Di Detroit, senator terpilih dari Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, berhasil memenangkan kursi setelah berkampanye untuk mengakhiri bantuan militer AS ke Israel. Kemenangan ini diraih meskipun ia menghadapi kampanye besar-besaran dari kelompok lobi pro-Israel, AIPAC. El-Sayed menegaskan kepada para pendukungnya bahwa masyarakat tidak ingin uang pajak mereka digunakan untuk mendanai perang atau genosida.
Tantangan bagi Lobi AIPAC
Meskipun AIPAC mengklaim lebih dari 234 kandidat yang mereka dukung berhasil menang, data menunjukkan kerugian finansial yang signifikan. Laporan Responsible Statecraft mengungkapkan bahwa komite politik AIPAC, United Democracy Project (UDP), menghabiskan 84,1 juta dolar AS, di mana 55,3 juta dolar AS di antaranya dihabiskan untuk kandidat yang kalah. Kekalahan terbesar terjadi pada upaya mereka menjegal El-Sayed, yang menelan biaya 31,47 juta dolar AS.
Menanggapi tekanan politik tersebut, Trump sempat menyatakan bahwa Washington akan mengakhiri bantuan militer tahunan ke Israel setelah tahun ini. Namun, pernyataan ini memicu skeptisisme karena ia tidak memberikan detail mengenai penghentian pendanaan tersebut dan menegaskan bahwa AS akan tetap menjual senjata ke Israel.
Prospek Kebijakan di Kongres
Dengan kendali di kedua majelis Kongres, Partai Demokrat diperkirakan akan menggunakan dengar pendapat untuk menyelidiki penggunaan senjata AS oleh Israel di Gaza. Para legislator juga berpotensi mengajukan syarat untuk pendanaan militer di masa depan. Meski demikian, Daniel Levy, presiden US/Middle East Project (USMEP), memperingatkan bahwa upaya tersebut kemungkinan besar akan terbentur hak veto presiden.
Trump telah menyatakan rencananya untuk menggunakan hak veto guna memblokir kebijakan Demokrat yang dianggapnya tidak masuk akal. Mengesampingkan veto memerlukan mayoritas dua pertiga di kedua majelis, yang sulit dicapai oleh Demokrat. “I would not underestimate the extent to which executive privilege can be deployed in the ways this administration has deployed it, approaching and crossing lines that the US system of checks and balances should have enforced, but hasn’t,” kata Levy.
Sementara itu, Simon Mabon, profesor politik internasional di Universitas Lancaster, menilai bahwa meski garis kebijakan mungkin menjadi lebih keras, terdapat masalah struktural yang lebih dalam terkait kolaborasi militer yang melampaui lingkup Kongres. Di sisi lain, mantan Perdana Menteri Israel Yair Lapid berupaya memisahkan dukungan terhadap Israel dari kebijakan pemerintahan Netanyahu yang dianggap toksik oleh banyak pihak di Washington.
Ke depan, para analis menilai bahwa meskipun dukungan publik terhadap Israel di AS mulai memudar, belum jelas apakah hal ini akan secara material mengubah kebijakan Israel di Gaza. Namun, kritik terhadap Israel kini telah menjadi bagian dari debat politik arus utama di Amerika Serikat.








