Dunia

Brasil Luncurkan Peta Jalan Global untuk Tinggalkan Fosil

Brasil Luncurkan Peta Jalan Global untuk Tinggalkan Fosil
Daftar Isi
  1. Fokus pada Implementasi
  2. Kritik dan Karakteristik Peta Jalan
  3. Langkah Strategis dan Pendanaan

Pemerintah Brasil telah merilis peta jalan global pertama untuk mengakhiri ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil. Langkah ini diambil menjelang konferensi iklim PBB dengan tujuan menunjukkan bahwa setiap negara dapat meningkatkan ekonomi dan mengentaskan kemiskinan tanpa harus bergantung pada batu bara, minyak, dan gas.

Fokus pada Implementasi

André Corrêa do Lago, presiden untuk KTT Cop30, menyatakan bahwa peta jalan ini dirancang untuk mengalihkan fokus konferensi iklim tahunan PBB dari sekadar negosiasi menjadi implementasi target yang telah disepakati. Menurutnya, terdapat perbedaan peran antara pihak yang bernegosiasi dan pihak yang menjalankan kebijakan di lapangan.

“Mereka adalah dokumen implementasi,” ujar Corrêa do Lago dalam sebuah wawancara dengan The Guardian. Ia menambahkan bahwa peta jalan tersebut harus diadopsi oleh kementerian keuangan, transportasi, energi, dan infrastruktur di setiap negara untuk menentukan langkah konkret yang dapat diterapkan.

Peta jalan ini merupakan hasil kompromi dari KTT Cop30 yang berlangsung di Belém, Brasil, tahun lalu. Saat itu, terjadi perdebatan sengit mengenai apakah resolusi akhir harus mencakup janji spesifik terkait bahan bakar fosil. Sebagai jalan tengah, kepresidenan menyepakati pembuatan dua peta jalan: satu mengenai transisi energi yang adil dan teratur, serta satu lagi mengenai penghentian dan pembalikan deforestasi.

Kritik dan Karakteristik Peta Jalan

Meskipun dipandang sebagai langkah maju, peta jalan Brasil menuai kritik karena dianggap kurang mendetail. Joeri Rogelj, profesor sains dan kebijakan iklim di Imperial College London, menilai dokumen tersebut tidak mencantumkan garis waktu atau tolok ukur utama.

“Karena kelalaian ini, peta jalan tersebut masih menyisakan banyak tanda tanya mengenai apa yang diperlukan untuk mencapai tujuan akhir Perjanjian Paris, yaitu membatasi pemanasan global hingga jauh di bawah 2 derajat Celcius, dan idealnya 1,5 derajat Celcius,” kata Rogelj.

Berbeda dengan inisiatif “koalisi sukarela” yang dibentuk di Santa Marta, Kolombia, peta jalan Brasil tidak bersifat mengikat. Dokumen ini memberikan keleluasaan bagi setiap negara untuk mendiagnosis tingkat ketergantungan mereka sendiri terhadap bahan bakar fosil dan memilih langkah pengurangan yang sesuai dengan kondisi nasional masing-masing.

Langkah Strategis dan Pendanaan

Beberapa langkah yang disarankan dalam peta jalan tersebut mencakup pengurangan emisi metana dari lokasi ekstraksi minyak dan gas, pengurangan subsidi bahan bakar fosil, serta peningkatan kapasitas energi terbarukan. Terkait deforestasi, peta jalan tersebut menyoroti kebutuhan pendanaan yang besar untuk melindungi hutan tropis di Amazon, Kongo, dan Asia Tenggara.

Berdasarkan data PBB yang dikutip dalam dokumen tersebut, dibutuhkan dana sekitar 300 miliar dolar AS per tahun untuk sektor kehutanan pada 2030, dan meningkat menjadi 500 miliar dolar AS per tahun pada 2050. Saat ini, dana yang tersedia masih jauh dari target, yakni sekitar 85 miliar dolar AS per tahun. Sebagai upaya awal, Brasil telah membentuk Tropical Forest Forever Facility yang sejauh ini berhasil mengumpulkan sekitar 7 miliar dolar AS.

Selain pendanaan, peta jalan tersebut juga menekankan pentingnya regulasi perdagangan antara negara berhutan dan negara konsumen untuk mencegah masuknya produk dari area deforestasi. Di Brasil sendiri, tingkat deforestasi telah turun sekitar 70 persen selama empat tahun masa pemerintahan Presiden Luiz Inácio Lula da Silva, yang baru saja memenangkan masa jabatan keempatnya.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *