Daftar Isi
Ketegangan geopolitik, volatilitas harga, dan perubahan cepat pada lanskap energi global kini menguji daya tahan kawasan Asia Tenggara. Kawasan ASEAN berada dalam posisi rentan imbas eskalasi krisis di Timur Tengah karena mayoritas negara masih bergantung pada pasokan energi dari wilayah tersebut.
Kerentanan Pasokan dan Beban Subsidi
Laporan Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) yang diberitakan oleh CNN Indonesia mencatat krisis Timur Tengah menunjukkan kerentanan Asia Tenggara terhadap guncangan pasokan bahan bakar fosil. Sebelum krisis pecah, sekitar 60 persen impor minyak mentah dan sepertiga impor gas Asia Tenggara berasal dari Timur Tengah, sementara 45 persen pasokan produk olahan minyak di kawasan ini sangat terikat dengan minyak mentah wilayah tersebut.
Pemerintah di negara-negara ASEAN merespons lonjakan harga bahan bakar dan listrik dengan langkah darurat seperti penekanan permintaan, insentif pajak, pembatasan harga, hingga subsidi. Intervensi ini menambah beban fiskal negara tanpa menyelesaikan akar masalah, di mana nilai subsidi bahan bakar fosil di kawasan yang berada di kisaran US$40 miliar sebelum krisis diproyeksikan melonjak tajam pada 2026.
IEA memperkirakan tagihan impor energi Asia Tenggara membengkak dari sekitar US$80 miliar pada 2024 menjadi US$245 miliar pada 2035 jika ketergantungan ini tidak diatasi. Peningkatan konsumsi energi didorong oleh sektor industri yang mencapai 45 persen dari total konsumsi akhir akibat manufaktur dan ekspansi hilirisasi nikel di Indonesia, serta sektor transportasi yang mendominasi permintaan minyak bumi.
Beberapa negara sempat beralih kembali ke batu bara untuk menyiasati lonjakan harga gas, namun memicu risiko kesehatan dan lingkungan dengan perkiraan kontribusi pada 330 ribu kematian dini akibat polusi udara pada 2024. Percepatan energi terbarukan, elektrifikasi, efisiensi energi, fleksibilitas sistem kilang, dan diversifikasi pasokan menjadi solusi jangka panjang.
Tantangan dan Penyelarasan Kepentingan Regional
Head of Energy Modelling and Policy Planning ASEAN Centre for Energy (ACE) Zulfikar Yurnaidi membeberkan tantangan besar ASEAN di masa depan. Merujuk pada studi ASEAN Energy Outlook, ACE mengestimasi kebutuhan energi primer di negara-negara ASEAN akan melonjak hingga empat kali lipat atau 400 persen terhitung dari tahun ini hingga 2060.
Skenario efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, dan elektrifikasi mampu memangkas proyeksi kebutuhan energi hingga setengahnya, namun membutuhkan investasi fantastis sekitar US$400 miliar per tahun. “Jadi bagaimana caranya kita meyakinkan Indonesia, Singapura, Malaysia, dan negara-negara lain, bahwa kepentingan nasional mereka dengan kepentingan regional itu sebenarnya berjalan bersamaan,” ujar Zulfikar dalam acara Economic with Rully Kurniawan yang disiarkan di YouTube CNN Indonesia, Kamis (29/10).
Penyelarasan kepentingan regional diwujudkan melalui penguatan infrastruktur cadangan energi kawasan, termasuk dorongan menjadikan Indonesia sebagai pusat penyimpanan cadangan minyak ASEAN. Pada Mei 2026, Ketua Komisi XII DPR RI kala itu, Bambang Patijaya, mendukung inisiatif Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menawarkan Indonesia sebagai pusat penyimpanan cadangan minyak kawasan ASEAN.
“Indonesia memiliki keunggulan geografis yang sangat penting, terutama karena berada di jalur perdagangan energi dunia. Ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat peran strategisnya dalam sistem ketahanan energi kawasan ASEAN,” ujar Bambang. Fasilitas storage minyak di Sumatera dinilai tidak hanya memperkuat cadangan nasional, tetapi juga menarik investasi strategis ke Tanah Air.
Kolaborasi dan Keberlanjutan Energi Masa Depan
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menekankan ketahanan energi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan keberlanjutan bagi generasi mendatang. “Di sektor energi, ketahanan berarti memastikan bahwa sistem yang kita andalkan saat ini mampu terus memenuhi kebutuhan masyarakat, mendukung perekonomian, dan melayani generasi mendatang,” ujar Simon dalam agenda 51st ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE) bertema Strengthening Resilience Through Collaboration di Sanur, Bali, Senin (26/10), dikutip dari siaran pers.
Simon juga mengangkat tema Nusantara in Harmony untuk menekankan pentingnya kerja sama di tengah keberagaman negara-negara ASEAN. Kolaborasi diibaratkan seperti orkestra yang memiliki instrumen berbeda tetapi saling melengkapi untuk menghasilkan harmoni.
“Hal yang sama berlaku bagi komunitas energi regional kita. Kekuatan kita bukan terletak pada upaya menjadikan setiap negara sama, melainkan pada kemampuan untuk mendorong setiap negara menyumbangkan keunggulan dan kapasitas uniknya demi mencapai tujuan bersama,” jelas Simon.








