Dunia

Negara dengan Siswa Pintar Tertinggi di Dunia, Ini Juaranya

Negara dengan Siswa Pintar Tertinggi di Dunia, Ini Juaranya

Negara-negara di kawasan Asia mendominasi posisi puncak untuk kemampuan sains, matematika, dan membaca berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025. PISA sendiri merupakan penilaian yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) terhadap para siswa yang berusia 15 tahun.

Dominasi Asia Timur dan Singapura

Penilaian PISA 2025 menguji bidang sains, matematika, serta membaca, dengan menempatkan sains sebagai fokus utama. Pengujian sains ini dirancang tidak sekadar menilai kemampuan mengingat fakta, melainkan juga mengukur kemampuan menjelaskan fenomena secara ilmiah, mengevaluasi penyelidikan beserta bukti, serta menilai informasi ilmiah guna mendukung pengambilan keputusan. Selain itu, PISA 2025 turut mengukur kemampuan pemecahan masalah secara komputasional.

Kawasan Asia Timur menjadi tempat bagi para siswa dengan perolehan nilai tertinggi di dunia, di mana sistem pendidikan wilayah ini menguasai keenam posisi teratas. Sejumlah wilayah di China yang turut serta, yakni Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang, tercatat memimpin dalam bidang matematika serta sains. Capaian tersebut didorong oleh penerapan sistem pendidikan di Asia timur yang menitikberatkan pada disiplin akademis, kurikulum ketat, pengembangan guru, serta ekspektasi tinggi dari orang tua.

Berbagai penelitian mengenai keberhasilan akademis siswa China juga menggarisbawahi sikap budaya terhadap kerja keras dan prestasi. Kendati demikian, hasil tersebut merefleksikan kondisi pendidikan serta sosial ekonomi, dan bukan menunjukkan perbedaan kemampuan yang melekat. Di sisi lain, Singapura sukses menempati peringkat pertama untuk kategori membaca sekaligus menjadi yang tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Kondisi Pendidikan di Amerika, Eropa, dan Afrika

Beralih ke kawasan Amerika Utara, Kanada menempati peringkat ke-11 dengan raihan 495 poin, sementara Amerika Serikat berada di peringkat ke-16 dengan mengantongi 485 poin. Para pelajar di Amerika Serikat mencatatkan skor 502 untuk sains dan 490 untuk membaca, tetapi hanya memperoleh 463 pada bidang matematika. Analisis Brookings mencatat adanya penurunan nilai ujian di Amerika Serikat sejak dekade 2010-an yang semakin diperparah oleh gangguan masa pandemi, sementara sistem pendidikan Kanada juga menghadapi kekhawatiran terkait penurunan kinerja akademis.

Untuk kawasan Eropa, mayoritas negara berada di urutan kesepuluh ke bawah, meskipun wilayah tersebut sering kali dipandang sebagai pusat penelitian dan pendidikan. Sementara itu, benua Afrika sama sekali tidak masuk dalam jajaran 20 besar negara dengan siswa terpintar, bahkan gagal menembus daftar 40 besar. Tidak ada sistem pendidikan asal Afrika yang muncul dalam peringkat 40 besar, kendati partisipasi PISA yang terbatas membuat perbandingan lintas benua menjadi tantangan tersendiri.

Berdasarkan catatan UNESCO, infrastruktur yang kurang memadai, kekurangan tenaga pendidik, ketimpangan akses pendidikan, serta kemiskinan masih menjadi kendala utama. Faktor kesenjangan gender turut memegang peranan penting, di mana anak perempuan di sejumlah wilayah harus menghadapi hambatan tambahan berupa pernikahan dini, beban tanggung jawab rumah tangga, hingga penyelesaian pendidikan, sementara efektivitas investasi dan penyaluran sumber daya kepada siswa yang kurang beruntung turut mempengaruhi kesempatan belajar.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *