Ekonomi

Akuisisi IDBI Bank $5,5 Miliar Ditolak Pekerja dan Oposisi

Akuisisi IDBI Bank $5,5 Miliar Ditolak Pekerja dan Oposisi

Rencana akuisisi lembaga keuangan milik negara India, IDBI Bank, oleh perusahaan asal Kanada Fairfax Financial Holdings senilai $5,5 miliar memicu penolakan keras dari kalangan pekerja dan partai politik oposisi di India. Rencana penjualan saham mayoritas tersebut dinilai merugikan kepentingan publik dan pekerja.

Ancaman Mogok Kerja dan Penolakan Oposisi

Serikat pekerja perbankan United Forum of IDBI Officers and Employees menyerukan aksi mogok kerja nasional selama dua hari sebagai bentuk protes terhadap rencana penjualan bank kepada pihak Fairfax. Melalui unggahan di media sosial X pada Minggu, serikat tersebut mengungkapkan kekhawatiran mendalam terkait transparansi proses penjualan dan penentuan nilai valuasi bank.

Pihak serikat menuntut pemerintah untuk membatalkan proses privatisasi tersebut. Sebagai gantinya, mereka mendesak pemerintah berfokus memperkuat kinerja IDBI Bank sembari melindungi investasi publik serta hak-hak para karyawan.

Dukungan terhadap aksi penolakan ini juga datang dari pemimpin oposisi India, Rahul Gandhi. Ia menyatakan bahwa bank BUMN seharusnya tidak diperlakukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. “Bank publik bukan aset yang untuk dijual bebas, mereka adalah alat untuk membangun bangsa,” ujar Gandhi dalam pernyataannya pada Kamis.

Gandhi menambahkan bahwa rencana pengalihan lebih dari 60 persen saham IDBI Bank kepada Fairfax bertentangan dengan komitmen pemerintahan sebelumnya yang berjanji mempertahankan kepemilikan saham negara minimal sebesar 51 persen.

Sanggahan Pemerintah dan Dugaan Manipulasi Valuasi

Menteri Keuangan India Nirmala Sitharaman membantah kritik tersebut dan menjelaskan bahwa bank BUMN itu sebelumnya diserahkan kepada pemerintah dalam kondisi buruk. Kinerja bank kemudian berhasil dipulihkan melalui pengelolaan profesional, kehati-hatian, serta penyuntikan modal ulang senilai lebih dari 250 miliar rupee ($2,6 miliar).

“IDBI Bank kini siap memasuki fase pertumbuhan berikutnya,” tutur Sitharaman. Pemerintah telah menegaskan bahwa tahap perkembangan selanjutnya akan didorong oleh masuknya investor strategis.

Pada 14 Oktober lalu, pemerintah India menyebutkan bahwa penjualan lebih dari 60 persen saham IDBI Bank akan menjadi transaksi investasi asing langsung terbesar di sektor keuangan negara tersebut. Dalam penawarannya, Fairfax mengajukan harga 81 rupee per lembar saham, lebih tinggi dari rata-rata nilai wajar yang ditetapkan sebesar 75,99 rupee per saham. Pada perdagangan Senin, saham IDBI dibuka di kisaran harga 79 rupee per lembar.

Kendati demikian, media lokal India Businessworld melaporkan pada Kamis bahwa sejumlah pejabat pemerintah diduga menekan nilai valuasi IDBI Bank agar penawaran dari Fairfax terlihat lebih menarik. Kementerian Keuangan membantah tuduhan itu dan menyatakan proses penawaran dilakukan secara double blind, di mana penawar tidak mengetahui nilai valuasi dan tim penilai tidak melihat besaran nilai penawaran.

Pemerintah India gencar melakukan divestasi saham di sejumlah perusahaan negara sepanjang tahun ini untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan fiskal. Pemerintah telah melepas kepemilikan saham di beberapa entitas, seperti Cochin Shipyard, Indian Railways Finance Corp, NHPC, dan Coal India. Selain itu, pada Agustus lalu, pemerintah meraup dana sebesar $3,3 miliar dari penjualan 6,5 persen saham di perusahaan asuransi terbesar India, Life Insurance Corporation of India.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *