Dunia

Lonjakan Harga Minyak Pemanas Resahkan Warga Desa di Inggris

Lonjakan Harga Minyak Pemanas Resahkan Warga Desa di Inggris

Menjelang kedatangan musim dingin, warga di wilayah pedesaan Inkpen dan Combe, Berkshire, Inggris, dilanda kecemasan akibat lonjakan tinggi harga minyak tanah (kerosene) untuk pemanas rumah tangga. Wilayah yang berada di luar jangkauan jaringan gas utama ini sangat bergantung pada pasokan minyak tersebut untuk kebutuhan air panas dan pemanas ruangan.

Biaya pembelian minyak pemanas melonjak lebih dari dua kali lipat sejak dimulainya perang AS-Iran. Saat ini, harga untuk 1.000 liter minyak—yang cukup untuk kebutuhan 10 hingga 12 minggu—mencapai 1.219 poundsterling. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang berada di kisaran 549 poundsterling. Berbeda dengan konsumen gas alam, pengguna minyak pemanas tidak mendapatkan perlindungan batasan harga konsumen dari pemerintah.

Dampak Harga dan Solusi Tradisional

Kondisi fluktuasi harga ini membuat warga terus memantau pergerakan pasar. Seperti dilaporkan The Guardian, setiap kali harga minyak per liter mengalami penurunan, seperti saat gencatan senjata pada bulan Juni, grup WhatsApp warga desa langsung ramai dengan pemberitahuan antar tetangga. Sebagai langkah penghematan, permintaan terhadap kayu bakar yang sudah dikeringkan kini meningkat drastis.

Sebagian rumah di kawasan tersebut masih memanfaatkan sistem back boiler, yakni tangki air di belakang perapian yang mengalirkan air panas ke keran dan radiator. Sistem ini memungkinkan pemilik rumah memanaskan hunian tanpa biaya tambahan jika memiliki akses kayu bakar. Penulis Nicola Chester menuturkan bahwa keluarganya sempat memanfaatkan kayu bakar yang tumbang akibat badai Austen dan Boelo di lahan perkebunan sekitar, sebelum hak pengumpulan kayu tersebut dicabut akibat perselisihan dengan penjaga lahan.

Sejarah Konflik Bahan Bakar Musim Dingin

Persoalan pemenuhan bahan bakar musim dingin di kawasan ini memiliki rekam jejak sejarah yang panjang. Pada 1840, setelah lahan umum Wadsmere Common ditutup dan dikuasai oleh perkebunan milik King’s College, Cambridge, kayu bakar menjadi komoditas dagang yang sangat menguntungkan bagi pemilik lahan. Warga desa yang saat itu terjerat kemiskinan energi dilarang mengumpulkan kayu bakar, dan mereka yang melanggar dilaporkan oleh petinggi perkebunan.

Sengketa tersebut sempat dibawa ke pengadilan oleh warga desa hingga mereka memenangkan gugatan, yang kala itu turut menjadi sorotan harian The Times. Namun, pihak pemilik lahan membalas tindakan warga dengan mengusir lima keluarga penyewa ke tengah badai salju pada bulan Januari serta merubuhkan rumah-rumah mereka. Rumah salah satu penghuni terakhirnya, yang dikenal sebagai Granny Bulpitt, dibiarkan hancur oleh pihak kampus setelah ia meninggal pada 1903.

Kini tidak ada lagi yang tinggal di area tersebut, selain rumor keberadaan hantu Granny. Meski waktu telah berlalu, pemenuhan bahan bakar untuk musim dingin tetap menjadi isu sensitif yang terus membayangi warga setempat hingga sekarang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *