Aktivitas manufaktur Indonesia mencatatkan lonjakan signifikan pada Oktober 2026. Berdasarkan data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang dirilis S&P Global pada Senin (2/11/2026), PMI Indonesia berada di level 54,0, yang merupakan angka tertinggi sejak Maret 2024 atau dalam 31 bulan terakhir.
Ekspansi Solid Ditopang Lonjakan Pesanan
Titik acuan PMI adalah angka 50, di mana posisi di atas angka tersebut menandakan dunia usaha berada dalam fase ekspansi, sementara di bawahnya berarti kontraksi. Sektor manufaktur Indonesia tancap gas pada awal kuartal IV-2026 karena pesanan baru melonjak ke level tertinggi dalam lima tahun, yang kemudian mendorong produksi tumbuh paling kencang sejak Maret 2024.
Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, lonjakan PMI manufaktur tersebut ditopang oleh permintaan domestik yang menguat serta ekspor yang mencetak rekor pertumbuhan. Pesanan ekspor baru dilaporkan meningkat pada laju tercepat sejak survei dimulai pada April 2011.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, mengatakan kondisi manufaktur Indonesia membaik selama dua bulan berturut-turut. Kuatnya permintaan mendorong perusahaan meningkatkan produksi secara tajam.
Ekspansi berlangsung solid dan menjadi yang terkuat sejak Maret 2024, didorong salah satu kenaikan pesanan baru terkuat dalam sejarah survei, ujar Usamah, dikutip dari website resmi S&P.
Persediaan Menipis dan Tekanan Biaya Produksi
Permintaan terhadap produk manufaktur Indonesia menguat signifikan pada Oktober, dengan pesanan baru naik selama tiga bulan berturut-turut pada laju tercepat sejak Oktober 2021. Pelaku usaha mengaitkan lonjakan tersebut dengan meningkatnya kepercayaan pelanggan, peluncuran produk baru, dan pasar internasional.
Produsen merespons lonjakan permintaan dengan meningkatkan produksi untuk bulan kedua berturut-turut, di mana output tumbuh paling tajam sejak Maret 2024. Kendati demikian, lonjakan pesanan mulai menguras persediaan barang jadi karena perusahaan menggunakan stok yang tersedia, sehingga penurunan persediaan menjadi yang terdalam sejak Agustus 2020.
Tekanan kapasitas juga belum mereda karena tumpukan pekerjaan meningkat selama empat bulan berturut-turut. Di sisi lain, perusahaan meningkatkan pembelian bahan baku dan menambah persediaan seiring perbaikan rantai pasok dan waktu pengiriman bahan baku yang kembali memendek untuk pertama kalinya dalam lebih dari setahun.
Namun, kenaikan aktivitas tersebut belum diikuti lonjakan perekrutan tenaga kerja, di mana penyerapan pekerja hanya meningkat tipis pada Oktober dengan laju penciptaan lapangan kerja melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Tekanan juga datang dari biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku, terutama bahan bakar, serta pergerakan nilai tukar yang kurang menguntungkan sehingga inflasi biaya input meningkat.
Produsen merespons kondisi ini dengan menaikkan harga jual lebih cepat pada Oktober. S&P Global menilai kuatnya permintaan menjadi modal positif bagi aktivitas manufaktur dalam beberapa bulan mendatang, sementara perkembangan penyerapan tenaga kerja dan biaya produksi akan tetap dicermati di tengah ekspansi yang semakin kencang.








