Daftar Isi
Pertemuan antara Presiden Serbia Aleksandar Vučić dan Perdana Menteri Hongaria Viktor Orbán di Serbia utara tahun lalu berujung pada kejatuhan kekuasaan keduanya dalam kurun waktu satu tahun. Keduanya tersingkir akibat gerakan rakyat, di mana Orbán kalah lebih dulu pada April oleh partai Tisza pimpinan Péter Magyar, disusul kemenangan telak gerakan mahasiswa di pemilihan umum parlemen Serbia.
Pergerakan Pemilih dan Peran Teknologi
Partai Tisza di Hongaria berpusat pada kepribadian pemimpinnya, sementara gerakan mahasiswa di Serbia menegaskan bahwa mereka tidak memiliki struktur kepemimpinan tunggal. Meskipun memiliki bentuk berbeda, tingkat partisipasi pemilih yang sangat tinggi mencapai 79 persen di Hongaria dan 69 persen di Serbia digerakkan oleh kalangan muda yang menguasai teknologi.
Kelompok muda tersebut memanfaatkan perangkat kecerdasan buatan untuk mengolah data, mengidentifikasi ancaman terhadap pemungutan suara, serta memobilisasi puluhan ribu pengawas pemilu guna mencegah intimidasi dan kecurangan dari partai berkuasa. Mobilisasi pemilih dan peran pengawas ini memegang peranan besar dalam kemenangan pihak oposisi di kedua negara.
Kelompok aksi sipil DE asal Hongaria mengirimkan 70 pengawas pemilu ke Serbia untuk bekerja sama dengan perwakilan gerakan mahasiswa dan mengunjungi tempat pemungutan suara di Provinsi Vojvodina, Serbia utara. Sebelumnya pada musim panas, mereka sempat mengadakan lokakarya untuk membagikan pengalaman serta metode pemilu Hongaria kepada para mahasiswa Serbia.
Teknik utama yang dibagikan adalah mengidentifikasi distrik pemungutan suara yang dianggap rentan atau terinfeksi kecurangan, seperti wilayah dengan lonjakan suara tidak wajar bagi partai berkuasa pada pemilu sebelumnya. Menurut aktivis mahasiswa Subotica bernama Péter Klemm kepada BBC, kelompok pemantau mengerahkan tim seluler dan merekam situasi setelah melihat kelompok bertopeng berkumpul di dekat TPS sejak sore hari. Kombinasi pengawas tetap dan relawan di setiap TPS yang terancam bertindak sebagai pencegah kuat terhadap intimidasi maupun kecurangan pemilu.
Kesamaan Latar Belakang dan Aliansi
Sebelumnya, Orbán yang telah berkuasa selama 16 tahun dan Vučić selama 14 tahun tampak memegang kendali penuh atas institusi negara serta kerajaan bisnis yang saling tumpang tindih di antara kedua negara. Saat bertemu di sebuah toko roti di Subotica, keduanya sempat membahas berbagai kesepakatan bisnis termasuk rencana pembelian saham mayoritas perusahaan minyak NIS di Serbia oleh Hongaria.
Kedua pemimpin nasionalis tersebut memiliki banyak kesamaan dalam bisnis maupun politik, termasuk kedekatan hubungan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping, serta dukungan kuat terhadap pemimpin separatis Serbia Bosnia, Milorad Dodik. Proyek pembangunan jalur kereta api kecepatan tinggi antara Beograd dan Hongaria juga didanai serta dikerjakan menggunakan keahlian dari China.
Paralel antara kejatuhan kedua tokoh ini dinilai sangat luar biasa. Aleksandar Vučić mengakui kekalahan tepat pada pukul 21.30 waktu setempat pada Minggu malam, persis seperti yang dilakukan Viktor Orbán pada 12 April, di luar perkiraan para pengamat yang menduga keduanya tidak akan menyerah secara damai.
Terdapat spekulasi bahwa Vučić sempat berbicara dua kali dengan Orbán pada Minggu malam untuk meminta nasihat, yakni sebelum dan sesudah ia mengaku kalah, serta dugaan bahwa Orbán meyakinkan sekutunya di Serbia tersebut untuk tidak menggunakan kekuatan militer. Vučić membantah berbicara dengan Orbán sebelum membuat pengumuman, namun mengakui adanya percakapan setelahnya, sementara Viktor Orbán menolak memberikan komentar ketika dihubungi oleh BBC.
Angka Serupa dan Ancaman Hukum
Terdapat kemiripan angka yang unik di mana Student List memperoleh 140 kursi di parlemen Serbia yang beranggotakan 250 kursi, jumlah yang sama persis diraih oleh partai Tisza pimpinan Péter Magyar di parlemen Hongaria yang memiliki 199 kursi. Péter Magyar menjadi satu-satunya pemimpin Eropa yang menghubungi para mahasiswa secara langsung untuk menyampaikan ucapan selamat pada malam kemenangan tersebut.
Menurut kepala Student List, Ilija Srdanović, hasil pemilu di Hongaria menunjukkan bahwa langkah yang mereka ambil sudah tepat. Di sisi lain, Orbán yang berusia 63 tahun dan Vučić yang berusia 56 tahun kini berpotensi menghadapi proses hukum atas dugaan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan.
Sistem peradilan di kedua negara memiliki kemiripan melalui kantor kejaksaan khusus kejahatan terorganisasi Serbia, JTOK, dan kejaksaan khusus baru di Hongaria yang dikenal sebagai NVVH dengan kewenangan serupa. Selain itu, perusahaan-perusahaan asal Hongaria yang dekat dengan Orbán juga tercatat terlibat dalam proyek pembangunan stasiun kereta api Novi Sad.
Runtuhnya kanopi stasiun tersebut pada 1 November 2024 yang menewaskan 16 orang diakibatkan oleh faktor korupsi dan kelalaian, yang kemudian menjadi pemicu utama bangkitnya gerakan mahasiswa di Serbia. Pendiri kelompok aksi sipil DE di Hongaria, Áron Timar, menyatakan kepada BBC bahwa anggapan rezim Orbán dan Vučić semakin kuat seiring lamanya berkuasa ternyata salah besar karena mereka justru semakin melemah begitu masyarakat mulai bersuara dan bangkit.
Sumber: BBC News








