Dunia

Saran Jacinda Ardern untuk Atasi Polarisasi Politik

Saran Jacinda Ardern untuk Atasi Polarisasi Politik

Mantan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyampaikan pesan penting kepada para politikus Australia di Sydney Opera House pada hari Minggu. Ia menilai para pemimpin politik memperparah polarisasi di masyarakat dan harus memperbaiki kineja mereka untuk memulihkan kepercayaan publik.

Pesan untuk Politikus dan Polarisasi Global

Dalam diskusi bersama penulis Anna Funder, Ardern mengatakan bahwa para pejabat mempunyai tanggung jawab besar untuk menghindari pemikiran biner dan bahasa kekerasan. Menurutnya, kepercayaan harus dibangun kembali melalui jaminan keamanan finansial di tengah masa ketidakpastian yang mendalam saat ini.

Ardern menjelaskan bahwa dalam beberapa dekade terakhir, globalisasi telah memicu rasa tidak aman yang membuat warga menyerang lembaga-lembaga seperti Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO. Respons para politikus terhadap situasi tersebut, seperti Brexit atau kemunculan figur seperti Donald Trump, justru menawarkan pihak yang bisa disalahkan dan membuat keadaan semakin memburuk.

Wanita berusia 46 tahun yang baru saja pindah ke Australia dan menjadi dosen di Universitas Sydney ini menyoroti bagaimana perbedaan pandangan kini dianggap sebagai bentuk kejelasan moral yang mutlak. Kondisi ini, kata dia, membuat masyarakat tidak lagi bisa saling berinteraksi dan menyulitkan proses pemecahan masalah.

Dampak Media Sosial dan Krisis Kepemimpinan

Ardern juga membahas bagaimana media sosial mempersulit individu untuk mengubah pandangan mereka berdasarkan informasi baru karena rekam jejak digital yang tersimpan. Ia mengaku sempat naif ketika pertama kali masuk parlemen pada tahun 2008 karena antusias menggunakan media sosial untuk berkomunikasi langsung tanpa menyadari potensi manipulasi informasi di dalamnya.

Pandangannya terhadap dunia daring berubah drastis pada peristiwa penembakan masjid di Christchurch tanggal 15 Maret 2019. Ia menyadari sepenuhnya persenjataan informasi digital ketika serangan teror domestik terjadi akibat pelaku yang mengalami radikalisasi melalui YouTube serta menyiarkan aksi tersebut menggunakan Facebook.

Ketidakpercayaan yang menumpuk akibat kegagalan respons politik terhadap keresahan warga telah menciptakan krisis kepemimpinan, bukan sekadar krisis kepercayaan. Ardern menutup pandangannya dengan menyatakan bahwa empati, kerendahan hati, dan rasa ingin tahu merupakan elemen kunci yang saat ini hilang dari dunia politik.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *