Teknologi

Pemenang Lomba Foto Nikon Kehilangan Gelar Akibat Kecerdasan Buatan

Pemenang Lomba Foto Nikon Kehilangan Gelar Akibat Kecerdasan Buatan

Seorang pemenang salah satu penghargaan fotografi ilmiah paling bergengsi di dunia harus kehilangan gelarnya. Keputusan tersebut diambil setelah karya yang ia daftarkan terbukti dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan.

Kontroversi Pemenang Kontes Nikon

Kontes Small World in Motion tahunan ke-16 yang diselenggarakan oleh Nikon terbuka untuk setiap video atau fotografi selang waktu digital yang diambil melalui mikroskop. Pemenang tahun edisi kali ini adalah Dr. Ning Xu dari Universitas Tsinghua di Tiongkok, yang videonya merekam pergerakan silia kecil di saluran udara seorang anak penderita diskinesia silia primer, sebuah gangguan pernapasan langka.

Kendati demikian, karya yang diajukan oleh Xu memicu berbagai kekhawatiran di kalangan komunitas ilmiah. Beberapa peneliti menyatakan terdapat keabnormalan pada struktur serta ukuran sel, sementara fitur-fiturnya tampak muncul dan menghilang dengan cara yang tidak lazim dalam biologi sel.

Seorang profesor madya di Universitas Florida menyebutkan bahwa beberapa struktur dalam video tersebut muncul dan lenyap begitu saja, sementara bagian silia tiba-tiba muncul dari ketiadaan, yang merupakan indikasi klasik sebuah video dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Temuan yang lebih memberatkan datang dari seorang mahasiswa doktoral bernama Ian Donovan di UT Southwestern Medical Center, yang menyatakan bahwa gambar sumber tampak memuat sebuah tanda air khas yang menandakan hasil buatan kecerdasan buatan. Dua mantan juri kompetisi juga turut menyuarakan kekhawatiran terkait keaslian klip tersebut.

Pengakuan dan Penyelidikan Penyelenggara

Melalui sebuah unggahan di LinkedIn yang kini telah dihapus, Xu mengakui menggunakan kecerdasan buatan pada videonya. Ia berdalih teknologi tersebut hanya dipakai untuk membedakan serta memvisualisasikan fitur-fitur dalam gambar skala abu-abu yang direkonstruksi dari pencitraan optik resolusi super saat proses pascapemrosesan. Xu menambahkan bahwa kecerdasan buatan sama sekali tidak dipakai untuk menciptakan videonya, bagian silia, ataupun pergerakannya, serta bersikeras bahwa dirinya tidak melanggar aturan kompetisi.

Meskipun upaya memperjelas visibilitas struktur mikroskopis merupakan hal yang lumrah dan diizinkan, para peneliti biasanya menggunakan teknik seperti pemberian pewarna pada sampel itu sendiri. Penjelasan Xu dinilai tidak mampu menjawab keabnormalan yang ditemukan di dalam videonya, di mana sejumlah ilmuwan menilai keraguan tersebut dapat dihilangkan apabila Xu bersedia membagikan video mentah berskala abu-abu.

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan, pihak Nikon menemukan bahwa Xu telah melanggar aturan kompetisi sehingga gelarnya dicabut. Posisi juara pertama kemudian dialihkan kepada Nguyen Nam Nhat dari Vietnam yang mengikutsertakan video cacing gelang kecil dan organisme bersel tunggal. Menanggapi insiden tersebut, Nikon menyatakan dalam keterangan resminya bahwa mereka berencana untuk meninjau kembali berbagai aturan serta prosedur evaluasi untuk peserta kompetisi di masa mendatang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *