Energi surya terpusat menggunakan cermin untuk mengubah cahaya matahari menjadi panas guna menggerakkan turbin pembangkit tradisional, alih-alih langsung mengubah foton menjadi listrik.
Tantangan dan Persaingan
Hingga sekitar satu dekade lalu, energi surya terpusat dinilai memiliki masa depan cerah karena kemajuan penyimpanan panas memungkinkan pembangkitan listrik sepanjang waktu. Namun, harga panel surya fotovoltaik anjlok drastis dan menjadikannya sumber daya termurah di sebagian besar wilayah, sementara biaya energi surya terpusat gagal bersaing meski penurunannya sempat menyaingi tenaga nuklir.
Kondisi tersebut memaksa pembangunan fasilitas pendukung seperti baterai dan fasilitas gas alam guna mengatasi kebutuhan malam hari atau kekurangan daya akibat cuaca. Menjawab tantangan itu, sebuah perusahaan kecil menjanjikan solusi tanpa perlu membangun fasilitas terpisah dengan merancang sistem tenaga surya terpusat yang berbagi sebagian besar perangkat pembangkit dengan sistem cadangan bahan bakar fosil.
Cara Kerja Energi Surya Termal
Energi surya terpusat atau surya termal bekerja menggunakan heliostat, yakni perangkat cermin dengan sistem pelacakan bermotor yang menjaga fokus cahaya matahari pada satu titik di sebuah menara. Cairan kerja yang dipanaskan di dalam menara tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin uap konvensional atau disimpan panasnya untuk menghasilkan listrik pada malam hari.
Kendati demikian, terdapat berbagai variasi sistem mulai dari cairan kerja berbeda, metode penyimpanan panas, hingga cermin berbentuk cerukan yang meniadakan kebutuhan menara. Berbagai variasi ini bertujuan mengatasi kendala bawaan surya termal seperti banyaknya komponen bergerak dan cairan korosif, yang turut membuat biaya pembangunan pabrik-pabrik tersebut tertinggal jauh di belakang fotovoltaik.
Sumber: Ars Technica - All content






