Daftar Isi
Praktik penambangan emas ilegal di sekitar Johannesburg, Afrika Selatan, kian memprihatinkan seiring dengan melonjaknya harga emas dunia. Meski kepolisian setempat berulang kali melakukan penindakan, aktivitas penambangan di lubang-lubang bekas tambang yang terbengkalai belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Krisis Air dan Dampak Sosial di Lapangan
Cora Bailey, pendiri organisasi perlindungan satwa Community Led Animal Welfare (Claw) di Roodepoort, sebelah barat Johannesburg, menuturkan kepada The Guardian bahwa penambang ilegal kini merambah hingga ke dekat fasilitasnya. Para penambang ilegal yang secara lokal dikenal sebagai zama zamas—berarti “mengambil kesempatan” dalam bahasa Zulu—bahkan mengambil air dari dua tangki berkapasitas 25.000 liter milik Claw. Pasokan air dari pemerintah kota tersebut ditujukan untuk kebutuhan sekitar 100 ekor hewan hasil penyelamatan.
Bailey menjelaskan bahwa organisasinya terpaksa menutup gerbang fasilitas lebih awal karena persediaan air yang tersisa hanya beberapa ember. Pihak kepolisian sempat membantu memotong semak-semak yang menyembunyikan para penambang, namun kelompok penambang ilegal kembali bertindak tidak lama setelahnya.
Kepolisian Afrika Selatan secara berkala mengumumkan keberhasilan razia mereka, termasuk penangkapan 71 terduga zama zamas di berbagai wilayah pada pertengahan Oktober. Namun, para peneliti memperkirakan jumlah penambang ilegal sebenarnya mencapai puluhan ribu orang. Peneliti dari Global Initiative against Transnational Organised Crime, Marcena Hunter, pada 2019 memperkirakan sekitar sepersepuluh dari total produksi emas Afrika Selatan senilai 1 miliar dolar AS telah diekspor secara ilegal.
Tindakan penegakan hukum oleh polisi juga pernah memicu tragedi kemanusiaan. Pada 2025, sebanyak 93 jenazah dievakuasi dari sebuah lubang tambang di Stilfontein setelah aparat memblokir pasokan makanan dan air ke bawah tanah.
Akar Masalah dan Ribuan Tambang Terbengkalai
Maraknya penambangan ilegal dipicu oleh kombinasi lonjakan harga emas, tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, keterlibatan oknum politisi serta polisi, hingga kelalaian perusahaan tambang dalam menutup lubang bekas galian setelah berhenti beroperasi.
Sejarah modern Afrika Selatan sangat terikat dengan industri pertambangan sejak ditemukannya emas pada 1884 yang melahirkan Kota Johannesburg. Negara ini menjadi produsen emas terbesar di dunia selama lebih dari satu abad hingga 2007. Pemerintah kota mengklaim masih ada sekitar 40.000 ton emas yang tersimpan di bawah tanah, tetapi biaya pengerukannya kian mahal karena lokasinya semakin dalam.
Menteri Pertambangan Gwede Mantashe mengungkapkan dalam sidang parlemen bahwa pada 2025 terdapat 6.100 tambang terlantar tanpa pemilik serta 1.170 lubang tambang yang tidak aman. Kekosongan inilah yang dimanfaatkan oleh para zama zamas, yang mayoritas merupakan warga dari negara tetangga seperti Lesotho, Mozambik, dan Zimbabwe.
Perdebatan Mengenai Amblesnya Tanah dan Kekerasan
Menjelang pemilihan lokal pada 4 November, sejumlah politisi menyalahkan penambang ilegal atas munculnya tanah ambles (sinkhole). Anggota Dewan Kota Johannesburg bidang transportasi, Kenny Kunene, menunjukkan kerusakan Jalan Wemmer Pan yang ambles total dan dipenuhi lubang galian yang ia klaim akibat ulah zama zamas.
Namun, para ahli menilai para penambang ilegal tersebut telah dijadikan kambing hitam. Profesor antropologi dari Columbia University, Rosalind Morris, menjelaskan bahwa penyebab utama tanah ambles di kawasan itu adalah aktivitas pertambangan industri formal. Penyedotan ratusan juta galon air tanah setiap hari oleh industri skala besar dinilai merusak kestabilan struktur batuan dolomit di wilayah tersebut.
Isu kekerasan juga sering dikaitkan dengan keberadaan zama zamas, seperti kasus penembakan massal di Wedela. Namun, peneliti senior dari Bench Marks Foundation, David van Wyk, menegaskan bahwa kekerasan dipicu oleh persaingan geng bersenjata yang memperebutkan kendali atas lubang tambang. Para pekerja di bawah tanah sebenarnya adalah buruh murah yang dieksploitasi, sementara anggota geng bersenjata tidak pernah turun ke dalam tambang.
Di Khutsong, sekitar 80 kilometer sebelah barat Johannesburg, kegiatan penambangan ilegal justru menjadi penopang ekonomi warga lokal. Pengurus kelompok advokasi Mining Affected Communities United in Action, Vusi Cele, menyatakan bahwa tanpa perputaran uang dari penambang ilegal, kawasan pemukiman tersebut akan menjadi kota mati. Cele menambahkan bahwa ia pun berminat menambang jika mendapatkan lisensi resmi dari pemerintah, mengingat penghasilan di permukaan tanah sangat terbatas dibandingkan dengan potensi emas di bawah tanah.
Sumber: Environment | The Guardian







