Dunia

Israel Gelar Pemilu di Tengah Perpecahan Mendalam

Israel Gelar Pemilu di Tengah Perpecahan Mendalam
Daftar Isi
  1. Persaingan Ketat dan Tokoh Baru Oposisi
  2. Kampanye Keamanan Netanyahu dan Suara Pemilih Garis Keras
  3. Sikap Oposisi dan Tantangan Pascapemilu

Israel bersiap menghadapi pemilihan umum umum yang krusial pada hari Selasa dalam bayang-bayang perpecahan mendalam akibat perang regional. Jajak pendapat yang dirilis pada hari Jumat menunjukkan persaingan ketat antara koalisi pemerintahan dan blok oposisi utama.

Persaingan Ketat dan Tokoh Baru Oposisi

Menjelang hari pemungutan suara, kerumunan besar pendukung oposisi berkumpul di pusat kota Tel Aviv pada Sabtu malam untuk menuntut pergantian pemerintahan. Kampanye tahun ini diwarnai oleh kemunculan tokoh baru dari kubu oposisi, yaitu Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer yang dikenal tenang dan berlatar belakang kelas pekerja Maroko. Bersama partai centris Yashar miliknya, Eisenkot kerap memimpin perolehan suara dalam jajak pendapat terakhir, menyaingi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dari partai Likud.

Dalam kunjungannya ke pusat komunitas Yahudi Ethiopia di Ramle, Eisenkot menegaskan bahwa pemilu ini menyangkut identitas masa depan negara sebagai negara yang demokratis, toleran, dan egalitarian. Di sisi lain, kubu oposisi menuding pemerintahan Netanyahu mengancam demokrasi Israel melalui upaya pelemahan peradilan serta penolakannya untuk membentuk komisi penyelidikan negara terkait serangan 7 Oktober 2023. Oposisi menjanjikan penyelidikan tersebut dan penegakan aturan wajib militer bagi warga Yahudi Ultra-Ortodoks, isu yang mendapat dukungan luas dari publik.

Kampanye Keamanan Netanyahu dan Suara Pemilih Garis Keras

Sementara itu, Benjamin Netanyahu memusatkan kampanyenya pada isu keamanan dengan slogan inti “Tidak Menyerah”. Ia memperingatkan para pemilih bahwa kubu oposisi bersikap lemah dalam pertahanan nasional dan berisiko bersekutu dengan partai-partai Arab Israel. Sejumlah pendukung setia Netanyahu di Yerusalem menilai perdana menteri tersebut sebagai pemimpin kuat yang mampu mengubah kawasan Timur Tengah dan harus diberi kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Namun, dampak serangan 7 Oktober juga mendorong sebagian pemilih bergeser ke partai-partai sayap kanan yang lebih ekstrim. Di Sderot, dekat perbatasan Gaza, warga yang kehilangan kerabat dalam serangan tersebut menyatakan beralih mendukung partai sayap kanan seperti Kekuatan Yahudi (Jewish Power) yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir, atau Zionisme Religius di bawah pimpinan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. Jajak pendapat mencatat bahwa pemilih pemula, yang jumlahnya mencapai setengah juta orang, menunjukkan ketertarikan kuat pada partai-partai sayap kanan yang menawarkan pendekatan lebih tegas terhadap Palestina.

Sikap Oposisi dan Tantangan Pascapemilu

Di wilayah kibbutz Nir Oz yang terdampak parah oleh serangan Hamas, sebagian warga justru mendambakan perubahan kepemimpinan yang berfokus pada kemanusiaan, ekonomi, dan sosial, serta mengalihkan dukungan mereka kepada Eisenkot atau partai kiri-demokrat pimpinan Yair Golan. Kendati demikian, dalam isu kebijakan luar negeri dan keamanan, perbedaan antara pemerintah dan oposisi tidak terlalu besar. Eisenkot berjanji mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza dalam delapan belas bulan dan menyatakan dukungan terhadap bentuk otonomi atau “negara-minus” di bawah kontrol keamanan mutlak Israel, sementara tetap menolak kedaulatan penuh Palestina.

Pemilu hari Selasa ini diprediksi berpotensi memicu kebuntuan politik jika tidak ada kubu yang mampu membentuk mayoritas tanpa dukungan dari partai-partai Arab. Dengan peringatan ancaman baru dari Iran serta ketegangan yang terus berlanjut di Tepi Barat yang diduduki, ketidakstabilan politik di dalam negeri dikhawatirkan akan menghadirkan ujian baru bagi demokrasi dan keamanan Israel.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *