Nasional

Mengenal Sedyatmo, Penemu Cakar Ayam Asal Indonesia

Mengenal Sedyatmo, Penemu Cakar Ayam Asal Indonesia
Daftar Isi
  1. Tantangan Pembangunan Jembatan Air Wiroko
  2. Menghormati Adat dan Pengakuan Karier
  3. Inovasi Fondasi Cakar Ayam

Sedyatmo merupakan insinyur asal Indonesia yang dikenal dunia berkat penemuan struktur fondasi “cakar ayam”. Sebelum perancangannya diakui secara luas, kalkulasi teknik yang ia buat sempat diremehkan oleh para insinyur Belanda karena dinilai tidak sesuai dengan standar konvensional.

Tantangan Pembangunan Jembatan Air Wiroko

Perjalanan tersebut bermula pada 1936, dua tahun setelah Sedyatmo memperoleh gelar insinyur. Saat itu, ia dipercaya oleh Mangkunegoro VII untuk menggarap jembatan air di Desa Wiroko, Wonogiri. Bangunan tersebut dirancang guna mengalirkan air dari Sungai Wiroko agar dapat dimanfaatkan oleh para petani di wilayah sekitarnya.

Pengerjaan proyek itu menghadapi berbagai rintangan fisik. Lokasinya tergolong terpencil, sarana jalan belum memadai, serta lingkungan sekitar dipenuhi ular berbisa. Meskipun demikian, Sedyatmo tetap menyelesaikan proyek tersebut dengan memprioritaskan efisiensi bahan, biaya, dan waktu tanpa mengurangi keandalan bangunan.

Selama pengerjaan berlangsung, terjadi pertentangan sudut pandang teknis. Insinyur-insinyur Belanda menganggap rancangan jembatan Sedyatmo menyimpang dari kaidah umum karena menerapkan ketebalan beton yang lebih tipis dari standar standar saat itu. Namun, Sedyatmo meyakini perhitungannya dan menilai para insinyur Belanda terlalu kaku berpegang pada teori buku.

“Kekuatan jembatan tersebut tidak kalah dengan jembatan yang menggunakan rumus-rumus konvensional,” ungkap Sedyatmo dalam biografinya yang berjudul Prof. Dr. Ir. Sedyatmo: Intuisi Mencetus Daya Cipta (2019), seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Menghormati Adat dan Pengakuan Karier

Di tengah pengerjaan jembatan, Sedyatmo juga melaksanakan tradisi masyarakat setempat dengan memotong seekor kerbau dan mengubur kepalanya di lokasi proyek. Dalam kepercayaan warga Jawa masa itu, pemutaran kepala kerbau dianggap sebagai bentuk persembahan kepada roh penunggu area setempat agar proyek berjalan aman.

Namun, Sedyatmo menegaskan dalam autobiografinya bahwa langkah tersebut tidak didasari oleh kepercayaan terhadap hal mistis, melainkan bentuk penghormatan kepada warga setempat. Sebagaimana ditulis dalam biografinya, “Sedyatmo melaksanakan adat tersebut, tapi tidak dengan kepercayaan demikian. Ia melaksanakannya semata-mata untuk memberikan ketenangan kepada masyarakat dan orang-orang yang membantunya,”.

Setelah prosesi tersebut, bagian daging kerbau disantap bersama oleh pekerja dan warga sekitar sebagai simbol kebersamaan. Sementara itu, bagian kepala ditanam karena sebagian besar terdiri dari tulang.

Jembatan Air Wiroko resmi selesai dibangun pada 1937 dan berdiri kokoh, membuktikan kebenaran analisis Sedyatmo. Keberhasilan proyek ini menarik perhatian pejabat tinggi Departemen Pekerjaan Umum (PU) Hindia Belanda, Prof. Ir. Bijlaard. Ia meminta Sedyatmo bergabung dengan Departemen PU, menjadikannya orang Jawa pertama yang bekerja di instansi tersebut.

Inovasi Fondasi Cakar Ayam

Karier Sedyatmo terus berkembang pesat setelah momen tersebut. Berdasarkan arsip koran De locomotief edisi 11 Agustus 1953, Sedyatmo diangkat menjadi Profesor atau Guru Besar bidang Tenaga Air di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Puncak karyanya lahir pada 1961 ketika ia merancang teknik fondasi “cakar ayam”. Sebagaimana dilaporkan koran Berita Yudha edisi 7 Februari 1985, cakar ayam merupakan fondasi struktur pelat beton bertulang yang dikhususkan untuk kawasan tanah tidak stabil. Konstruksi ciptaan Sedyatmo ini pada akhirnya meraih hak paten internasional dari belasan negara dan mencatatkan namanya sebagai salah satu insinyur paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *