Daftar Isi
Kontrak berjangka yang terikat dengan indeks Nasdaq-100 merosot pada Jumat dini hari setelah saham Amazon dan Intel anjlok menyusul rilis kinerja keuangan kuartalan kedua perusahaan. Berjangka Nasdaq-100 tercatat turun 2,1 persen, sementara berjangka S&P 500 melemah 1 persen dan berjangka Dow Jones berkurang 104 poin.
Kinerja Amazon dan Intel Tekan Saham Teknologi
Saham Amazon melemah 6 persen pada perdagangan perpanjangan waktu setelah melaporkan pendapatan dan laba bersih kuartal ketiga yang berada di bawah ekspektasi Wall Street. Perusahaan e-commerce dan komputasi awan tersebut juga mencatatkan arus kas bebas negatif sebesar 42,4 miliar dolar AS, meski tetap mempertahankan proyeksi belanja modal tahun 2026 sebesar 220 miliar dolar AS.
Sementara itu, saham Intel merosot hingga 21 persen akibat prospek kuartal berjalan yang dinilai lemah seiring terjadinya perlambatan pasar komputer pribadi (PC). Pendapatan pada kelompok komputasi klien dan kecerdasan buatan fisik Intel terkoreksi 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 8,1 miliar dolar AS.
Di sisi lain, saham perusahaan penyimpanan data Sandisk turut turun 3 persen pada perdagangan perpanjangan waktu, meskipun hasil keuangan kuartal pertama fiskalnya melebihi perkiraan analis. Sandisk juga mengumumkan rencana pemecahan saham (stock split) dengan rasio 8 banding 1.
Dampak Sektor AI dan Pergerakan Bursa Asia
Tekanan pada saham teknologi terjadi di tengah kecermatan investor terhadap investasi di sektor kecerdasan buatan (AI). Pada perdagangan reguler Kamis, saham Alphabet sudah lebih dulu jatuh 12 persen setelah merilis pendapatan dan laba kuartal ketiga yang meleset dari target serta melaporkan arus kas bebas negatif 9,07 miliar dolar AS. Penurunan induk Google tersebut menyeret Nasdaq Composite melemah 1,4 persen dan S&P 500 terkikis 0,3 persen pada sesi reguler.
Pergerakan di Wall Street turut memengaruhi bursa saham kawasan Asia Pasifik. Indeks Nikkei 225 Jepang terkoreksi 2,63 persen dan Topix melemah 1,35 persen. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 4,74 persen, sedangkan Kosdaq turun 4,08 persen. Di Tiongkok, indeks CSI 300 tergerus 0,38 persen. Sebaliknya, indeks S&P/ASX 200 Australia menguat tipis 0,29 persen dan indeks Hang Seng Hong Kong naik 1,64 persen.
Kekhawatiran Pengeluaran Infrastruktur AI
Oktober menjadi bulan yang bergejolak bagi perdagangan saham berbasis AI, dengan fokus utama investor tertuju pada besarnya pengeluaran perusahaan untuk pembangunan infrastruktur. Perusahaan skala besar seperti Alphabet dan Microsoft belum menaikkan perkiraan belanja modal mereka.
Pada saat yang sama, perusahaan penyedia komputasi awan baru (neocloud) yang menyediakan infrastruktur pusat data AI menghadapi sorotan investor terkait tingkat utang mereka. CoreWeave mencatatkan lonjakan imbal hasil obligasi dan sahamnya telah merosot 30 persen sepanjang Oktober, sementara saham Nebius mengarah pada penurunan 27 persen dalam sebulan.
Tekanan ini juga berdampak pada dana terdaftar di bursa (ETF) sektor AI, seperti Roundhill Memory ETF (DRAM) yang memuat produsen memori Micron dan Seagate Technology dengan penurunan 14 persen di bulan Oktober. Selain itu, iShares A.I. Innovation and Tech Active ETF (BAI) mencatatkan penurunan sebesar 10 persen.
Menjelang penutupan perdagangan bulan Oktober, indeks Nasdaq Composite diperkirakan mengakhiri bulan ini dengan penurunan 2,5 persen, sedangkan S&P 500 berpeluang mencetak kenaikan 0,9 persen dan Dow Jones menuju penguatan 2,8 persen.
Sumber: US Top News and Analysis






