Platform dunia virtual VRChat memutuskan untuk tidak menerapkan label penanda konten kecerdasan buatan (AI) di platformnya saat ini. Keputusan tersebut diambil meskipun hasil survei internal menunjukkan mayoritas pengguna menginginkan adanya transparansi terkait penggunaan teknologi tersebut.
Alasan Pengembang Enggan Terapkan Label AI
Dalam unggahan di pusat bantuan resminya, VRChat mengungkapkan bahwa sebanyak 95 persen responden survei meminta adanya label khusus untuk menandai penggunaan AI. Kendati demikian, pengembang platform interaksi sosial berbasis dunia virtual ini memilih untuk belum memperlakukan penandaan maupun fitur penyaring konten hasil generatif AI dalam hasil pencarian.
Pihak VRChat menjelaskan bahwa mereka masih menimbang opsi penambahan label untuk konten yang dibuat murni oleh manusia (Human-authored) serta kolom informasi alat yang digunakan (Tools used). Namun, perusahaan belum menentukan sikap resmi mengenai kedua fitur tersebut.
Pengembang khawatir penerapan label AI justru memicu dampak negatif di tengah komunitas. Mereka menilai sebagian kreator dapat menyembunyikan penggunaan AI dan mengklaim karyanya dibuat secara manual, sementara pengguna lain berpotensi melakukan intimidasi terhadap sesama kreator.
“Kami mengkhawatirkan hal ini dapat memicu perilaku ‘detektif’, di mana pengguna berupaya mencari-cari konten ‘AI’ atau bahkan melecehkan kreator lain, meskipun kreator tersebut sama sekali tidak menggunakan alat AI dalam proses kerjanya,” tulis tim pengembang VRChat sebagaimana dilaporkan Engadget.
Fokus Perbaikan Fitur Komunitas
Sebagai ganti label AI, VRChat memilih untuk memfokuskan pembaruan pada aspek-aspek yang dinilai memiliki keselarasan di seluruh komunitas. Langkah yang akan diambil meliputi penyediaan gambar pratinjau (thumbnail) yang lebih akurat, perbaikan sistem pencarian konten, serta penetapan kualitas sebagai metrik utama.
VRChat merupakan aplikasi yang memungkinkan pengguna membuat dan membagikan dunia virtual untuk mendukung interaksi sosial. Platform ini kerap dimanfaatkan dalam industri pembuatan film hingga pembentukan ruang aman bagi komunitas transgender, meskipun di sisi lain juga sempat menghadapi tuduhan terkait keberadaan perilaku beracun dan predatori di dalamnya.






