Teknologi

Provost Dartmouth Mundur Usai Gagal Ungkap Penggunaan AI

Provost Dartmouth Mundur Usai Gagal Ungkap Penggunaan AI

Provost Dartmouth College Santiago Schnell mengundurkan diri dari jabatannya setelah sebuah komite penasihat menemukan bahwa ia gagal mengungkapkan penggunaan kecerdasan buatan secara signifikan dalam sebuah makalah akademik dan artikel opini. Kasus ini mencuat hanya berselang beberapa waktu setelah ia sendiri sempat memperingatkan publik mengenai masalah kecurangan kecerdasan buatan di lingkungan perguruan tinggi.

Penyelidikan dan Temuan Komite

Komite penasihat menyimpulkan bahwa Schnell tidak mengungkapkan penggunaan kecerdasan buatan tersebut meskipun pihak penerbit mewajibkan pengungkapan itu. Selama proses investigasi berlangsung, Schnell dinilai tidak memberikan kerja sama yang memadai kepada pihak komite.

Ia memang menyerahkan laptop kantornya dari Dartmouth, namun ia menolak menyerahkan catatan atau log dari akun model bahasa besar pribadi miliknya yang berkaitan dengan tulisan-tulisan tersebut. Selain itu, ia juga tidak bersedia memenuhi panggilan untuk bertemu langsung dengan komite penyelidik.

Pola Penggunaan AI oleh Schnell

Meskipun demikian, komite berhasil memperoleh akses ke akun perusahaan Claude yang digunakan Schnell melalui fasilitas Dartmouth. Dari penelusuran tersebut, terungkap bahwa ia memanfaatkan teknologi tersebut sebagai alat bantu untuk merevisi makalah, mencari serta memperbaiki kutu dalam kode, hingga menyunting dan menghasilkan ilustrasi.

Dalam salah satu contoh dokumen penyelidikan, Schnell meminta asisten virtual tersebut untuk bertindak sebagai peninjau dan memberikan laporan penilai untuk sebuah makalah kimia yang hendak ia kirimkan. Penggunaan ini tentu berbeda jauh dengan meminta kecerdasan buatan untuk menuliskan seluruh isi makalah dari awal hingga akhir.

Sejak awal, Schnell bersikeras bahwa dirinya hanya menggunakan teknologi tersebut sebagai alat bantu penyuntingan dan mitra berdiskusi. Kepada media Semafor, ia menyatakan bahwa chatbot dipakai untuk menyempurnakan beberapa argumen serta memeriksa kesalahan tata bahasa.

Kepada seorang editor jurnal, ia menjelaskan bahwa teknologi tersebut difungsikan sebagai sarana editorial demi memperjelas kalimat dan ekspresi argumen. Ia berdalih tidak mencantumkan catatan penggunaan dalam jurnal akademiknya karena tidak mengetahui bahwa penyuntingan berbantuan kecerdasan buatan semacam itu wajib diungkapkan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *