Daftar Isi
Pasar saham teknologi di kawasan Asia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat, melanjutkan kemerosotan yang terjadi sebelumnya di Wall Street. Kepanikan investor dipicu oleh kekhawatiran bahwa kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela Amerika Serikat akan memperketat pengawasan terhadap kecerdasan buatan (AI) serta memperlambat pembangunan pusat data.
Penurunan Tajam di Bursa Saham Asia
Kepanikan pasar global bermula setelah indeks Nasdaq memerah sebesar 5,5 persen pada Kamis malam, yang menghapus nilai kapitalisasi pasar hingga 3 triliun dolar AS pada perusahaan-perusahaan di S&P 500. Investor khawatir langkah politik di Amerika Serikat dapat menghambat lonjakan industri AI yang sebelumnya didorong oleh Presiden Donald Trump.
Dampaknya langsung terasa di Asia. Indeks Nikkei Jepang merosot 6 persen, mencatatkan penurunan harian terburuknya sejak April 2025. Saham SoftBank Group dan Kioxia sama-sama terperosok hingga 11 persen. Di Taiwan, indeks sempat anjlok lebih dari 8 persen di awal perdagangan sebelum ditutup turun 4,5 persen. Data LSEG menunjukkan indeks Taiwan mencatat penurunan mingguan sebesar 12,2 persen, yang terbesar sejak tahun 1991.
Saham produsen cip terkemuka TSMC sempat merosot 8,5 persen sebelum mengakhiri perdagangan dengan penurunan 4,7 persen. Sementara itu, saham perusahaan semikonduktor Korea Selatan, Samsung Electronics dan SK Hynix, masing-masing melemah hampir 6 persen dan 9,4 persen.
Intervensi Pemerintah dan Otoritas Pasar
Untuk meredam kepanikan, otoritas di sejumlah negara Asia langsung mengambil langkah penanganan. Perdagangan di bursa Kospi Korea Selatan sempat dihentikan sementara. Menteri Keuangan Korea Selatan, Lee Hyoung-il, juga melonggarkan aturan investasi berdaya ungkit (leveraged investment) bagi investor ritel.
Di Tiongkok, lembaga-lembaga negara turun tangan membeli saham untuk menstabilkan kondisi pasar, seperti dilaporkan jurnalis Al Jazeera, Katrina Yu. Sementara itu, Kementerian Ekonomi Taiwan merilis pernyataan resmi untuk menenangkan pasar dengan menegaskan bahwa permintaan terhadap teknologi berkembang seperti AI, komputasi berkinerja tinggi, dan layanan awan diperkirakan akan terus meningkat.
Analis menilai guncangan politik ini menghantam perdagangan AI yang memang sudah rapuh akibat keraguan terhadap tingkat pengembalian investasi dari pengeluaran infrastruktur yang sangat besar. Kepada kantor berita Reuters, Dong Baozhen, Chairman pengelola aset Lingtong Shengtai, menyatakan bahwa lonjakan harga saham AI selama ini dibangun di atas ilusi indah tentang masa depan yang kini telah sirna.
Potensi Aturan Baru Pusat Data
Tekanan jual juga mencerminkan mulai tingginya kecemasan investor terhadap penolakan publik atas pembangunan pusat data. Kepala Ilmuwan di AI Institute University of New South Wales Australia, Toby Walsh, memperkirakan aturan baru terkait pusat data akan segera diterapkan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Australia, dan Inggris.
Walsh menjelaskan kepada Al Jazeera bahwa para pengembang kerap mendirikan pusat data di wilayah perkotaan tanpa mengantongi izin sosial dari masyarakat lokal, padahal fasilitas tersebut dapat dibangun di lokasi yang terisolasi. Menurutnya, koreksi pasar saat ini justru berpotensi memberikan dampak positif jangka panjang bagi industri teknologi agar gelembung investasi dapat kempes secara terkendali.








