Daftar Isi
Kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan umum sela yang membawa mereka menguasai Kongres Amerika Serikat memicu guncangan hebat di ranah politik domestik maupun konstelasi global. Hasil tersebut menempatkan Presiden Donald Trump di bawah tekanan besar dari internal Partai Republik untuk merombak kabinet dan arah kebijakannya.
Tekanan Internal dan Anjloknya Moral Gedung Putih
Melansir laporan Reuters dan AFP pada Kamis (5/11/2026), kekalahan kubu Republik dipicu oleh kemarahan publik atas lonjakan harga bahan bakar minyak serta keputusan keterlibatan AS dalam perang dengan Iran. Ahli strategi veteran Republik, John Feehery, menyarankan perombakan total. “Dia perlu membersihkan rumah,” kata Feehery. “Setiap hari dari titik ini ke depan, dia menjadi semakin lemah.”
Meski begitu, Trump menolak desakan itu dan mengisyaratkan tidak akan mengubah garis kebijakannya. “Saya tidak menganggapnya sebagai pukulan bagi saya,” ujar Trump. Ia juga menepis kritikan terkait waktunya yang dihabiskan untuk proyek renovasi area Gedung Putih. “Bagi saya itu menenangkan,” tuturnya.
Dengan memegang kendali penuh di Kongres, Demokrat memiliki kewenangan untuk menghambat pembahasan undang-undang, mengawasi jalannya pemerintahan, hingga menolak calon pejabat eksekutif. Hal ini diperkirakan bakal membuat Trump makin mengandalkan keputusan sepihak. Di lingkungan internal eksekutif, para pejabat senior kini bersiap menghadapi gelombang pengunduran diri dan pergantian kabinet. “Sangat menyebalkan berada di sini saat ini,” ungkap seorang pejabat senior Gedung Putih yang menolak disebutkan namanya. “Moral sedang serendah-rendahnya.” Pejabat tersebut menambahkan bahwa survei internal sebenarnya telah memberikan peringatan enam pekan sebelum pemungutan suara, tetapi Trump mengabaikannya. “Pada akhirnya, dia tidak peduli,” ucap pejabat itu. “Dia menolak mendengarkan siapapun.”
Dampak Geopolitik di Timur Tengah dan Ukraina
Pelemahan posisi politik Trump membawa angin segar bagi penanganan konflik internasional. Di Timur Tengah, muncul prospek mengenai penyelesaian damai antara Iran dan Israel. Ebtesam al-Ketbi dari Pusat Kebijakan Emirates menilai, “Jika Teheran menyadari bahwa Trump butuh kesepakatan, tetapi bukan sembarang kesepakatan, peluang nyata dapat muncul untuk mengakhiri perang.” Sejalan dengan hal tersebut, Analis Saxo Bank Ole Hansen mengamati pergerakan pasar. “Pasar tampaknya makin bertaruh bahwa Presiden Trump ingin melupakan perang Timur Tengah,” kata Hansen.
Di samping itu, dominasi Demokrat di Kongres memberi jalan bagi kelanjutan paket bantuan AS untuk Ukraina yang sempat tertahan, sekaligus mendorong mediasi negosiasi damai dengan Rusia. Mengenai kebijakan perdagangan, Mantan Sekretaris Perdagangan Pemerintah Federal India, Anup Wadhawan, menguraikan dampak pembatasan wewenang tarif sang presiden. “Seseorang pada akhirnya butuh persetujuan Kongres untuk tindakan perdagangan dan, sejauh itu, dia (Trump) dilemahkan,” jelas Wadhawan.
Arah Hubungan AS-China dan Isu Taiwan
Peta kekuatan baru di Kongres juga membendung keleluasaan Trump dalam menerapkan tarif secara sepihak terhadap China. Drew Thompson, Peneliti Senior Universitas Teknologi Nanyang Singapura, berpandangan bahwa Demokrat akan memanfaatkan peran mereka. “Mereka (Kongres) akan menggunakan setiap kesempatan untuk menggagalkan (kebijakan Trump) selama dua tahun ke depan,” sebut Thompson.
Di sisi lain, perdebatan soal dukungan bagi Taiwan berpotensi mengganggu kestabilan hubungan bilateral. Dekan Institut Studi Internasional Universitas Fudan, Wu Xinbo, memperkirakan Kongres akan memaksakan penjualan senjata. “Kongres yang dikuasai Demokrat mungkin memaksa Trump melanjutkan penjualan senjata ke Taiwan tahun depan,” urai Wu. “Jika itu terjadi, itu juga akan merusak stabilitas hubungan AS-China.”
Sementara itu, Steve Tsang dari SOAS China Institute menilai posisi Trump yang melemah akan dimanfaatkan Beijing. “Status Trump yang direndahkan menjadi ‘bebek lumpuh’ akan digunakan oleh China untuk memberikan lebih banyak tekanan kepadanya,” tutur Tsang. Meski demikian, ia menambahkan bahwa pihak China tetap berhitung secara cermat dan tidak ingin mendorong Trump bertindak secara tidak bertanggung jawab.








