Militer Amerika Serikat mendapat peringatan keras agar tidak memakai informasi orang dalam untuk bertaruh di pasar prediksi. Seperti dilaporkan CNBC Indonesia, arahan tegas ini disampaikan oleh Menteri Perang AS Pete Hegseth karena taruhan tersebut dinilai dapat membongkar rencana militer serta memengaruhi keputusan operasional negara.
Larangan Ketat dan Ancaman Sanksi
Memo tertanggal hari Selasa yang dikutip dari Russia Today secara khusus menyoroti platform judi seperti Kalshi dan Polymarket, tempat pengguna bertaruh pada peristiwa nyata termasuk aksi militer dan pemilu. Arahan ini melarang pemanfaatan materi rahasia atau data resmi yang belum dipublikasikan, dengan ancaman tindakan disipliner serta tuntutan pidana di bawah hukum federal maupun militer bagi para pelanggar.
Menurut Hegseth, musuh negara memantau pergerakan pasar tersebut sehingga keterlibatan personel militer, profesional intelijen, atau warga sipil departemen dalam transaksi finansial terkait hasil militer akan menciptakan sinyal bahaya.
Hegseth menegaskan bahwa kepentingan finansial pribadi berpotensi merusak objektivitas serta penilaian profesional di lapangan. Seseorang yang memiliki uang yang dipertaruhkan tentu akan memiliki kepentingan pribadi terhadap hasil atau tanggal suatu peristiwa.
Kasus Hukum dan Kontroversi Pasar Prediksi
Kebijakan baru ini muncul menyusul penuntutan terhadap seorang tentara Pasukan Khusus AS yang dituduh memanfaatkan pengetahuan awal mengenai operasi penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada Januari lalu. Jaksa menyebut Sersan Utama Gannon Ken Van Dyke menggunakan informasi tersebut untuk memasang taruhan di Polymarket senilai lebih dari US$ 32.500 atau sekitar Rp 585.000.000, dan berhasil meraup keuntungan melebihi US$ 400.000 atau setara Rp 7.200.000.000. Taruhan itu dipasang beberapa jam sebelum serangan ke Caracas berlangsung, meskipun Van Dyke menyatakan dirinya tidak bersalah.
Kontroversi serupa juga merembet ke luar lingkungan militer ketika sejumlah akun baru di Polymarket memasang taruhan sesaat sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata AS-Iran pada bulan April lalu, yang berbuah keuntungan hingga ratusan ribu dolar. Akibat kejadian itu, Gedung Putih langsung memperingatkan para staf agar tidak berdagang memakai informasi rahasia.
Selain itu, seorang mantan operator teleprompter Trump juga diwajibkan menyerahkan keuntungan di atas US$ 107.500 atau sekitar Rp 1.935.000.000 serta membayar denda sebesar US$ 65.000 atau Rp 1.170.000.000. Regulator menemukan bahwa ia memakai akses awalnya ke naskah pidato presiden untuk bertaruh pada kata-kata yang akan diucapkan oleh Trump.
Rentetan skandal ini memperketat pengawasan terhadap pasar prediksi yang dituduh menghindari hukum perjudian dan perlindungan konsumen. Di sisi lain, pemerintahan Trump bersikeras agar platform tersebut diatur oleh otoritas keuangan federal alih-alih undang-undang perjudian tingkat negara bagian, sementara keluarga presiden sendiri memiliki keterikatan bisnis di mana Donald Trump Jr. menjadi penasihat strategis Kalshi sekaligus investor Polymarket lewat perusahaan ventura 1789 Capital.






