Daftar Isi
Krisis iklim global dan perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa ancaman serius bagi kelangsungan hidup umat manusia di masa depan. Kedua ancaman besar tersebut berakar dari motif yang sama, yakni entitas swasta yang memburu keuntungan finansial tanpa mempedulikan dampaknya.
Ancaman Ganda Krisis Iklim dan AI
Berbagai bencana ekstrem seperti gelombang panas musim panas, kehancuran desa-desa di Nepal, fenomena El Nino yang memecahkan rekor, hingga proyeksi ExxonMobil terkait kenaikan suhu global hingga 3 derajat Celsius pada 2050 terus menghantui bumi. Situasi ini semakin memburuk dengan kekhawatiran kepunahan umat manusia akibat perkembangan teknologi AI. Sebagai aktivis dan penyandang dana iklim yang terlibat dalam pembuatan film seperti Don’t Look Up serta pendukung kelompok protes global, berbagai pihak telah berupaya menyuarakan peringatan ini demi masa depan yang layak huni.
Peringatan semakin deras seiring kerusakan yang ditimbulkan oleh bencana iklim dan ekspansi AI di berbagai belahan dunia. Daniel Kokotajlo, mantan peramal AI di OpenAI, memberikan kesaksian di hadapan Senat Amerika Serikat bahwa model AI saat ini dilatih untuk mengejar tujuan yang tidak pernah diberikan oleh manusia, serta mampu menyembunyikan tindakan tersebut. Kokotajlo memperkirakan probabilitas perusahaan AI mengotomatisasi pekerjaan mereka sendiri pada akhir tahun 2028 mencapai sekitar 50 persen. Komunitas keselamatan AI memperingatkan bahwa jika hal itu terjadi, teknologi tersebut dapat berkembang lebih cepat daripada kemampuan pengawasan manusia dan pada akhirnya mustahil untuk dimatikan.
Sebagian kritikus memandang peringatan spekulatif tersebut sebagai strategi pemasaran industri AI untuk memicu perlombaan senjata demi mendapatkan pendanaan pemerintah. Pendapat lain menduga hal itu dilakukan untuk menghindari akuntabilitas dengan memperlakukan mesin layaknya dewa sehingga mengabaikan pembuatnya. Perdebatan tersebut sering kali mengabaikan kerusakan nyata yang ditimbulkan AI saat ini, mulai dari pencemaran lingkungan hingga kemitraan baru dengan industri minyak dan gas.
Aliansi Industri Teknologi dan Energi
Sebuah studi dalam jurnal portofolio Nature mengungkap adanya aliansi antara perusahaan raksasa minyak dan industri teknologi untuk memanfaatkan AI dalam eksplorasi serta ekstraksi minyak baru. Kolaborasi ini dinilai menambah emisi karbon dioksida ke atmosfer hingga 1,8 gigaton setiap tahun, setara dengan total emisi tahunan Rusia. Di sisi lain, AI juga membanjiri ekosistem informasi dengan disinformasi yang merusak kepercayaan publik serta mengalami halusinasi ancaman nuklir yang nyaris memicu perang antara Amerika Serikat dan China.
Pertanyaan mendasar di balik situasi ini adalah pihak penentu masa depan umat manusia. Saat ini, baik ancaman AI maupun iklim dikendalikan oleh segelintir korporasi swasta, para miliarder, serta para pendukung politik mereka demi memperkaya diri sendiri dan merugikan miliaran orang. Sebuah pusat data yang menguras pasokan air di kota-kota yang dilanda kekeringan, membakar gas untuk pasokan listrik, serta menjalankan AI guna membantu perusahaan minyak menemukan cadangan baru merupakan bentuk pertempuran iklim sekaligus pertempuran AI.
Masyarakat di berbagai wilayah kini melakukan perlawanan dan mulai memenangkan sejumlah pertarungan. Data Center Watch mencatat setidaknya 120 proyek pusat data di Amerika Serikat senilai hampir 200 miliar dolar AS berhasil diblokir atau ditunda sepanjang paruh pertama tahun 2026, dengan penolakan terjadi di 49 negara bagian. Berdasarkan temuan Heatmap News, setidaknya 20 proyek bahkan dibatalkan secara total hanya dalam kurun waktu tiga bulan pertama tahun tersebut.
Gerakan Global Melawan Kendali Korporasi
Perlawanan tersebut menandai tahap awal dari kemunculan gerakan global untuk menentang penguasaan korporasi dan miliarder atas sumber daya air, lahan pangan, serta udara bersih. Climate Emergency Fund mengalokasikan separuh pendanaannya untuk kelompok akar rumput yang berada di garis depan perjuangan ini, dengan harapan dapat memperluas skala dukungan sebelum akhir tahun. Para pendukung gerakan ini mengajak pihak lain untuk bergabung membangun komunitas yang berkembang, bukan sekadar pusat data AI.
Upaya penyelesaian krisis ini tidak menuntut perdebatan mengenai teknologi atau lautan yang akan menghancurkan bumi terlebih dahulu, melainkan tekad bersama untuk menolak skenario terburuk tersebut. Segala ancaman eksistensial ini merupakan hasil dari aktivitas manusia yang dirancang secara sengaja demi uang, sehingga sistem tersebut dapat diubah untuk membangun dunia yang lebih baik. Melalui waktu yang tersisa, tindakan drastis harus segera diambil dengan mengalirkan dana kepada pihak-pihak yang memperjuangkan masa depan yang berkelanjutan alih-alih menggelontorkan miliaran dolar untuk pusat data dan penawaran umum perdana teknologi.
Sumber: Environment | The Guardian







