Teknologi

Review ASUS ProArt P16: Laptop AI Bertenaga Chip NVIDIA

Review ASUS ProArt P16: Laptop AI Bertenaga Chip NVIDIA
Daftar Isi
  1. Desain dan Spesifikasi RTX Spark
  2. Performa Pengujian dan Pengalaman Penggunaan
  3. Daya Tahan Baterai dan Pertimbangan Membeli

ASUS ProArt P16 hadir sebagai laptop pertama perusahaan yang ditenagai oleh cip RTX Spark buatan NVIDIA dan ditujukan khusus bagi para penggemar kecerdasan buatan (AI). Berdasarkan ulasan dari Engadget, perangkat kelas atas ini menawarkan performa tinggi untuk menjalankan model AI lokal, meskipun dibanderol dengan harga yang sangat mahal.

Desain dan Spesifikasi RTX Spark

ProArt P16 mengusung bodi alumunium dengan layar OLED 16 inci yang cerah, papan tik berjarak luas, serta tetikus sentuh haptik yang besar. Perangkat ini memiliki bobot sekitar 1,7 kilogram, yang lebih ringan dari MacBook Pro 16 inci buatan Apple yang berbobot 2,1 kilogram. Di bagian dalam, laptop ini ditenagai oleh sistem dalam cip RTX Spark dari NVIDIA yang memadukan CPU Arm 20 inti, GPU Blackwell modern, dan memori terpadu hingga 128 gigabita.

Menurut Engadget, platform RTX Spark dirancang sebagai cabang baru dalam desain PC untuk peneliti dan antusias AI, serta berdampingan dengan cip Snapdragon X dari Qualcomm. Kehadiran NVIDIA di pasar PC Windows ini dinilai akan memicu persaingan yang membuat merek lain seperti AMD, Intel, dan Qualcomm meningkatkan kualitas perangkat keras mereka. Selain itu, ASUS tetap melengkapi laptop ini dengan berbagai porta, termasuk tiga sambungan USB-C, USB Type-A, porta HDMI, colokan siniar, dan pembaca kartu SD ukuran penuh.

Performa Pengujian dan Pengalaman Penggunaan

Dalam pengujian Engadget, ASUS P16 terasa sangat cepat ketika menjalankan berbagai tugas berat. Meskipun skor PCMark 10 tertinggal sedikit dari laptop berchip Snapdragon X2 Elite dan pengujian CPU satu utas Geekbench 6 menunjukkan CPU Qualcomm lebih mumpuni, keunggulan utama RTX Spark terletak pada GPU, NPU, dan memori terpadunya. ASUS P16 mencetak skor jauh lebih tinggi dalam pengujian GPU Geekbench 6 serta pengujian Computer Vision 2 dan Image Generation dari UL Procyon dibandingkan MacBook Pro dengan cip M5 Max.

Perangkat ini mampu menjalankan model OpenClaw dan Qwen3.8 27B yang memakan memori sebesar 42 gigabita sambil tetap menyisakan ruang untuk tugas lain. Laptop ini juga sanggup memainkan gim seperti Control Resonant dan Cyberpunk 2077 pada pengaturan grafis tinggi, dengan performa grafis yang dinilai setara dengan GPU seluler RTX 5070 namun menggunakan daya lebih rendah. Kendati demikian, karena menggunakan CPU Arm, laptop ini mengandalkan emulator Prism milik Microsoft untuk menjalankan sebagian besar gim, yang dapat memunculkan kendala kompatibilitas.

Daya Tahan Baterai dan Pertimbangan Membeli

Layar OLED Lumina Pro berukuran 16 inci pada ProArt P16 menawarkan tingkat kecerahan puncak hingga 1.600 nit, yang bersaing dengan layar Mini LED milik Apple. Sementara itu, dalam pengujian baterai aplikasi PCMark 10, laptop ini mampu bertahan selama sepuluh jam 51 menit, dengan performa yang tidak menurun meskipun kabel daya dicabut. Kekurangan fisik utama dari laptop berwarna hitam legam ini adalah permukaannya yang sangat mudah meninggalkan bekas sidik jari.

Engadget menyimpulkan bahwa ASUS ProArt P16 dengan harga dasar 2.800 dolar AS (sekitar Rp45 juta) dan mencapai 7.000 dolar AS (sekitar Rp113 juta) untuk model 128 gigabita yang diuji, hanya cocok bagi para profesional industri AI yang membutuhkan keunggulan performa. Bagi kalangan umum maupun gamer, perangkat ini dinilai kurang ideal karena masih terdapat opsi laptop gaming tradisional yang menawarkan kompatibilitas lebih luas dan harga lebih bersahabat tanpa kendala emulasi.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *