Daftar Isi
Krisis dalam industri media saat ini tidak hanya terjadi akibat kemunculan internet, melainkan berakar jauh sebelum era daring. Praktik pemberitaan telah lama bergeser menuju dunia hiburan yang menjauh dari realitas lokal kehidupan sehari-hari masyarakat.
Ilusi Pseudo-Peristiwa dan Politik Hiburan
Dalam buku karyanya pada tahun 1962 berjudul The Image, Daniel J. Boorstin menyatakan bahwa tanggung jawab membuat dunia ini menarik telah bergeser dari Tuhan kepada para pembuat berita melalui penggunaan pseudo-peristiwa. Pseudo-peristiwa meliputi berbagai kegiatan seperti pidato, rapat umum, konferensi pers, hingga debat di televisi yang tidak lain hanya diciptakan untuk diberitakan demi mengisi kekosongan kejadian.
Perubahan ini turut mentransformasi dunia politik dari industri kebijakan dan legislasi menjadi industri emosi dan hiburan. Tugas para politikus saat ini adalah memberi makan industri emosi-hiburan melalui aksi pamer dan promosi diri, sementara para reporter mengulas karier politik tersebut layaknya sebuah drama.
Televisi dan Candu Stimulasi
Format siaran berita di televisi kerap bertentangan dengan kontennya karena menuntut penonton untuk terus menyaksikan tayangan selanjutnya tanpa menawarkan solusi nyata atas masalah yang diangkat. Hiburan pada akhirnya menjadi ideologi super dari segala wacana di televisi, di mana tragedi dan barbarisme disajikan sebatas untuk hiburan semata.
Meskipun internet telah mengubah lanskap bisnis media melalui media sosial, agregasi daring, dan pelaporan waktu nyata, modalitas dominan pemberitaan abad kedua puluh satu tetaplah hiburan. Infotainment dan sebagian besar berita daring memuaskan dahaga pikiran akan aktivitas konstruktif sambil menyajikan hiburan semata.
Dampak Psikologis dan Ideologi Berita
Pemberitaan yang terus-menerus mencampuradukkan urgensi dan ketidakrelevanan menciptakan kecemasan, ketakutan, serta kebingungan di tengah masyarakat. Pengalaman utama dari hiperrealitas ini adalah rasa takut yang mengambang akibat disajikan peristiwa-peristiwa berisiko tinggi tanpa jalan keluar yang konkret.
Di sisi lain, batas antara berita dan opini semakin kabur karena sebagian besar informasi disajikan dengan bingkai ideologi tertentu untuk memperkuat pandangan dunia kelompok penontonnya. Alih-alih menyampaikan kebenaran yang objektif, industri media beroperasi di bawah kontrak implisit untuk memberikan penegasan dan rasa nyaman bagi para audiensnya.
Sumber: Hacker News: Front Page







