Lifestyle

Film Termahal India ‘Ramayana’ Resmi Dirilis di Bioskop

Film Termahal India ‘Ramayana’ Resmi Dirilis di Bioskop
Daftar Isi
  1. Kisah Klasik dengan Skala Megah
  2. Ulasan Kritikus yang Beragam
  3. Adaptasi Pendahulu dan Respons Publik

Film termahal India yang merupakan adaptasi epik Hindu Ramayana dalam dua bagian dengan anggaran dilaporkan mencapai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp8,1 triliun resmi diputar di bioskop seluruh dunia. Karya garapan sutradara Nitesh Tiwari berjudul Ramayana: Rise of a Legend ini memadukan bintang-bintang besar India, keahlian efek visual Hollywood, serta dua komposer peraih Oscar untuk menjangkau penonton global.

Kisah Klasik dengan Skala Megah

Kisah Ramayana mengikuti perjalanan cinta, tugas, pengasingan, dan perang di dunia para dewa, makhluk demontrase, senjata surgawi, serta kerajaan besar. Ranbir Kapoor memerankan Pangeran Ram dari Ayodhya yang diasingkan selama 14 tahun ke hutan bersama istrinya, Sita, yang diperankan oleh Sai Pallavi. Sita kemudian diculik oleh Ravana, raja Lanka berkepala sepuluh yang diperankan oleh aktor India Selatan, Yash.

Produser film Namit Malhotra memimpin perusahaan efek visual DNEG yang pernah menggarap film-film blockbuster Hollywood seperti Dune dan Interstellar. Musik dalam film ini dikerjakan bersama oleh AR Rahman dan Hans Zimmer. Penayangan perdana film ini bertepatan dengan perayaan festival cahaya umat Hindu, Diwali, yang merayakan kembalinya Ram ke Ayodhya.

Ulasan Kritikus yang Beragam

Saibal Chatterjee dari NDTV memberikan tiga dari lima bintang, dengan menyatakan bahwa tontonan visual yang megah terkadang mengaburkan ceritanya dan aktingnya tidak konsisten. Sebaliknya, Rishabh Suri dari Hindustan Times memberikan empat bintang dan memuji penampilan serta efek visualnya, meskipun ia menilai paruh pertama film terasa lambat. Shubhra Gupta dari The Indian Express juga memberikan tiga bintang karena merasa terpikat secara bertahap oleh kisah epik tersebut.

Di kancah internasional, Peter Bradshaw dari The Guardian memberikan empat bintang dan menyebutnya sebagai melodrama epik India yang sangat menarik. Namun, Siddhant Adlakha dari IGN memberikan nilai empat dari sepuluh dan menilai aksi laga film tersebut kaku serta efek citra komputer yang kurang memuaskan. Sementara itu, Giovanni Lago dari Next Best Picture memberikan nilai lima dari sepuluh dan memuji penampilan Yash serta musik gubahan Rahman dan Zimmer.

Penggunaan kecerdasan buatan untuk menyesuaikan gerakan bibir para aktor dalam versi bahasa Inggris turut menuai kritik. Sutradara Nitesh Tiwari menyatakan bahwa teknologi tersebut bertujuan agar film lebih mudah diakses oleh penonton internasional.

Adaptasi Pendahulu dan Respons Publik

Di India, film ini dibandingkan dengan serial televisi Ramayan karya Ramanand Sagar pada tahun 1987 yang sangat populer dengan set sederhana dan efek khusus yang sederhana. Saat serial tersebut tayang, jalanan dilaporkan menjadi sepi dan penonton berkumpul di depan televisi dengan penuh devosi. Arun Govil yang dahulu memerankan Ram kini kembali tampil dalam film garapan Tiwari sebagai Dasharatha, ayah Ram.

Film baru ini hadir di tengah situasi politik di India di mana kisah Ram menjadi simbol identitas Hindu yang kerap memicu kontroversi. Film adaptasi berbiaya besar sebelumnya, Adipurush pada tahun 2023, sempat menghadapi kecaman dan seruan boikot karena dianggap tidak menghormati tokoh agama.

Ranbir Kapoor mengakui dirinya sempat merasa takut dan khawatir tidak dapat memenuhi ekspektasi dalam memerankan tokoh yang disembah jutaan orang. Rekannya, Sai Pallavi, menyebut pengalaman memerankan Sita sebagai proses spiritual sekaligus artistik untuk pertumbuhan pribadinya.

Respons penonton secara keseluruhan di bioskop akan menentukan keberhasilan film ini dalam mencatatkan momen budaya penting bagi India.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *