Daftar Isi
Seorang reporter keuangan dengan pengalaman lebih dari tujuh tahun membagikan kisah pribadinya dalam melunasi utang kartu kredit. Ia berhasil melunasi utang sebesar 11.310 dolar Amerika Serikat (sekitar Rp175 juta) dalam kurun waktu 18 bulan sambil tetap menjalani gaya hidupnya.
Kebiasaan Utang dan Pola Pikir yang Keliru
Penulis tersebut mengaku membawa saldo negatif pada kartu kreditnya hampir sepanjang satu dekade terakhir. Pada masa awal memiliki kartu kredit saat masih menjadi mahasiswa, ia kerap tidak memiliki uang tunai untuk melunasi tagihannya, namun sebagian besar waktu ia hanya kurang disiplin. Meskipun selalu membayar lebih dari kewajiban minimum setiap bulan, ia menganggap utang kartu kredit adalah hal yang lumrah dan tidak pernah berupaya melunasinya secara penuh.
Utangnya sempat lunas pada tahun 2020 berkat bantuan dana stimulus Covid-19, namun saldonya kembali bertambah setelah ia mengadopsi seekor anjing, pindah ke apartemen sendiri, serta tetap bepergian dan berbelanja. Puncak utangnya mencapai 11.310 dolar AS pada bulan Maret 2025 akibat kombinasi kebutuhan seperti biaya dokter hewan serta keinginan pribadi seperti tiket pesawat, hotel, dan makan di luar. Ia kerap menggunakan metode pemikiran yang mengandalkan perkiraan kasar tanpa benar-benar menghitung bunga kartu kredit yang mencapai setidaknya 21 persen.
Menjelang akhir tahun 2024 hingga awal 2025, pengeluarannya semakin meningkat akibat sejumlah perjalanan dan pernikahan sahabatnya hingga saldo utangnya melampaui 10.000 dolar AS. Hubungan asmara yang dijalaninya pada awal tahun 2025 membuka matanya berkat bantuan sang tunangan yang menyadarkan betapa besar risiko dari jumlah utang tersebut. Data LendingTree dari analisis data Federal Reserve menunjukkan bahwa sekitar 45 persen pemegang kartu kredit membawa saldo negatif setidaknya selama sebulan dalam setahun terakhir.
Strategi Pelunasan dan Pengendalian Pengeluaran
Setelah memeriksa kembali spreadsheet anggarannya dan mencermati laporan bulanan kartu kredit, ia mulai meninggalkan metode pelunasan yang hanya berdasarkan perkiraan. Tanpa harus melakukan tindakan ekstrem seperti memasukkan kartu ke dalam lemari es, ia mulai memangkas pengeluaran pada sektor tertentu seperti makan di luar dan belanja pakaian di New York.
Ia mengurangi frekuensi makan di restoran mewah, menghindari taksi online, serta lebih selektif dalam membeli pakaian secara daring agar tidak impulsif. Selain itu, ia mulai memasukkan saldo tagihan bulanan ke dalam spreadsheet secara disiplin agar tidak bisa menyangkal saat saldonya bertambah, serta menggunakan kartu debit untuk sebagian besar pembelian harian.
Ia juga menerapkan nasihat klasik tentang menyisihkan uang untuk diri sendiri terlebih dahulu dengan cara membayar cicilan kartu kredit sekaligus menyetor tabungan darurat secara otomatis pada hari gajian. Rata-rata ia menggelontorkan hampir 600 dolar AS per bulan untuk utangnya dari Oktober 2025 hingga September 2026.
Pentingnya Dana Darurat dan Akhir Perjalanan Utang
Keberadaan dana darurat terbukti sangat membantu pada Mei 2026 ketika anjing peliharaannya harus menjalani kunjungan medis yang mahal dengan biaya mencapai 6.000 dolar AS. Meskipun sempat merasa berat karena harus menguras tabungan yang telah dibangun dengan bangga, ia bersyukur tidak harus menimbun biaya medis tersebut ke dalam utang kartu kreditnya.
Kolumnis keuangan personal Michelle Singletary pernah menyatakan kepada dirinya bahwa utang membatasi berbagai kemungkinan dalam hidup. Menjelang usianya yang menginjak 30 tahun serta persiapan pernikahan dan masa depan, ia merasa beban utang tersebut sudah tidak lagi diperlukan dan kini merasa jauh lebih ringan setelah berhasil bebas darinya per 18 September.
Sumber: US Top News and Analysis






