Amerika Serikat (AS) menawarkan imbalan senilai US$ 20 juta atau setara dengan Rp 362 miliar bagi pihak yang bisa memberikan keterangan terkait program nuklir Iran. Pengumuman ini disampaikan ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihak Teheran berkeinginan menjalin kesepakatan guna menyudahi perang.
Program Imbalan Keamanan Nasional
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyampaikan penawaran tersebut melalui pernyataan di media sosial X, seperti dilaporkan oleh AFP pada Sabtu (7/11/2026). Inisiatif ini menjadi bagian dari program Departemen Luar Negeri AS yang dikenal sebagai “Rewards for Justice”.
Program tersebut diinisiasi pada tahun 1984 di bawah kerangka pengamanan nasional Departemen Luar Negeri AS guna memberikan kompensasi dana bagi setiap informasi yang mampu melindungi keselamatan serta kepentingan Amerika.
CENTCOM menyebutkan bahwa imbalan hingga US$ 20 juta beserta opsi relokasi disiapkan bagi data mengenai program nuklir Iran, yang meliputi fasilitas, perangkat, tenaga ahli, hingga pihak-pihak di lingkungan ilmiah. Meskipun demikian, pihak berwenang tidak merinci secara detail kriteria informasi yang memenuhi syarat untuk memperoleh kompensasi tersebut.
Departemen Luar Negeri AS dalam keterangan terpisah menyampaikan bahwa tindakan Iran yang tidak mematuhi kewajiban pemantauan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) telah mengakibatkan hilangnya kesinambungan pengetahuan badan tersebut terhadap produksi serta persediaan komponen krusial Iran seperti sentrifus.
Pernyataan Donald Trump dan Upaya Diplomatik
Di sisi lain, Trump kerap menyampaikan bahwa militer AS telah sukses melumpuhkan program nuklir Iran secara efektif. Dalam keterangan pada Jumat (6/11) malam waktu setempat di West Palm Beach, Florida, ia kembali membahas perihal nuklir Iran.
Presiden AS tersebut menyatakan bahwa jika negaranya tidak melakukan serangan terhadap Iran, maka Israel tidak akan bertahan hingga saat ini. Ia juga mengeklaim bahwa Iran pasti akan menggunakan senjata nuklir tersebut untuk menghancurkan kawasan Timur Tengah seandainya mereka memilikinya.
Kendati demikian, Trump menilai bahwa Iran kini berkeinginan kuat menghentikan konflik karena perekonomian serta sektor militer mereka mengalami kerusakan berat akibat perang selama delapan bulan terakhir. Pihaknya mengaku sedang berkomunikasi dengan mereka dan menyebut Teheran sangat ingin mencapai kesepakatan.
Upaya diplomasi melalui sejumlah mediator terus digencarkan demi mencegah eskalasi pertempuran ulang antara AS dan Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan pada Selasa (3/11) bahwa kabinetnya tetap mengupayakan penyelesaian konflik lewat jalur perundingan.
Sebelumnya, Trump sempat menuturkan bahwa dirinya masih perlu menangani satu atau dua target yang berkaitan dengan Iran, termasuk sebuah lokasi di Iran bagian tengah bernama Gunung Pickaxe yang diduga sebagai fasilitas nuklir bawah tanah. Pemerintah Teheran sendiri telah membantah keberadaan fasilitas tersebut.
Sumber: News - Detikcom








