Ekonomi

Pasar Saham AS Anjlok, Penasihat Keuangan Imbau Tetap Tenang

Pasar Saham AS Anjlok, Penasihat Keuangan Imbau Tetap Tenang

Para penasihat keuangan papan atas mengimbau para investor untuk tidak terburu-buru mengubah portofolio mereka di tengah aksi jual besar-besaran yang melanda bursa saham Amerika Serikat pada Kamis. Meskipun investor ritel terlihat gencar melepas saham individu, para ahli menilai tindakan terbaik saat ini adalah tetap berada di jalur investasi yang telah direncanakan.

Berdasarkan survei cepat yang dilakukan CNBC terhadap 38 perusahaan penasihat keuangan, lebih dari tiga perempat responden menyarankan investor untuk terlebih dahulu memeriksa alokasi dana mereka sesuai tujuan jangka panjang atau mempertahankan portofolio yang ada. Poling daring tersebut melibatkan jajaran CNBC Financial Advisor 100 dan Financial Advisor Council.

Tekanan jual di pasar modal terpicu oleh anjloknya saham sektor teknologi serta kekhawatiran atas potensi perlambatan pembangunan pusat data setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilu sela. Indeks Nasdaq Composite merosot hingga 5,5 persen dan ditutup lebih dari 10 persen di bawah rekor tertinggi terbarunya, yang menandakan indeks tersebut masuk ke wilayah koreksi. Sementara itu, S&P 500 melemah 4,4 persen dan mencatatkan penurunan harian terburuk sejak April 2025, serta Dow Jones Industrial Average merosot lebih dari 1.800 poin atau 3,4 persen.

Mempertahankan Portofolio dan Memantau Peluang

Kendati pasar bergejolak, mayoritas penasihat keuangan tidak merekomendasikan perubahan drastis pada alokasi aset klien. Direktur Strategi Investasi Burney Wealth Management, Andy Pratt, menjelaskan bahwa penurunan pasar justru memberi kesempatan bagi investor yang rutin menyetor dana tabungan pensiun 401(k) untuk membeli instrumen investasi pada harga yang lebih murah melalui metode dollar-cost averaging.

“If you have a 401(k), money is being allocated there biweekly, monthly, you know, whatever your pay period is, and so you’re able to dollar-cost average in,” kata Pratt kepada CNBC. “So when the market does sell off, you’re entering at a much better spot.”

Pratt menambahkan bahwa portofolio yang dirancang dengan baik tidak perlu diubah saat kondisi pasar memburuk. Pandangan serupa disampaikan Managing Director, Presiden, sekaligus CEO Parsons Capital Management, John Mullen, yang menyarankan investor untuk tetap bertahan pada jalur investasi sambil memantau peluang pembelian saham.

Di sisi lain, pendiri Life Planning Partners, Carolyn McClanahan, mengingatkan bahwa rasa panik dapat menjadi petunjuk bagi investor untuk meninjau kembali apakah instrumen mereka masih sesuai dengan toleransi risiko. Ia menyarankan agar investor berpegang teguh pada kebijakan investasi pribadi dan mengabaikan kebisingan spekulasi di pasar.

Kilas Balik Historis dan Pemulihan Pasar

Chief Investment Officer Beaird Harris Wealth Management, Tra Sullivan, mengungkapkan bahwa secara historis pergerakan saham di AS sering kali mengalami kenaikan dalam rentang 12 bulan setelah pemilu sela. Meski tren masa lalu bukan jaminan pasti untuk masa depan, ia menilai pasar saham biasanya mampu pulih lebih cepat dari yang diperkirakan banyak pihak.

Pada perdagangan pra-pasar Jumat, kontrak berjangka indeks Nasdaq sempat mengalami penguatan yang didorong oleh kembalinya minat pembeli pada saham produsen cip. Namun, Sullivan menegaskan jika tren pelemahan terus berlanjut, pembahasan bersama klien akan difokuskan kembali pada rencana keuangan dasar mereka.

Penasihat keuangan dari Moisand Fitzgerald Tamayo, Dan Moisand, menekankan pentingnya sikap tahan banting dalam menghadapi dinamika pasar modal. Menurutnya, daya tahan investor jauh lebih menentukan keberhasilan investasi dibandingkan berupaya menebak setiap pergerakan pasar.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *