Dunia

Prancis Dilanda Aksi Mogok dan Demonstrasi Nasional

Prancis Dilanda Aksi Mogok dan Demonstrasi Nasional

Gelombang aksi mogok dan demonstrasi nasional melanda berbagai wilayah di Prancis pada Kamis (15/10). Aksi ini melibatkan lima serikat pekerja yang bergabung dengan para pelajar sekolah menengah serta kelompok masyarakat untuk memprotes kenaikan biaya hidup.

Tuntutan Kenaikan Upah dan Layanan Publik

Hingga pukul 13.00 waktu setempat, lebih dari 250.000 orang telah turun ke jalan di hampir 70 kota di seluruh Prancis. Sophie Binet dari serikat pekerja CGT menyatakan bahwa jumlah tersebut hanyalah permulaan dari rangkaian aksi yang lebih besar. Para pengunjuk rasa menuntut kenaikan upah minimum, atau Smic, yang saat ini berada di angka 12,31 euro per jam. Marylise Léon, pemimpin serikat CFDT, menambahkan bahwa pihaknya menuntut kenaikan bersih sebesar 100 euro per bulan bagi pekerja.

Aksi ini berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk sekolah, rumah sakit, dan transportasi umum. Menara Eiffel dan sejumlah ruang pameran di museum Louvre di Paris terpaksa ditutup. Selain itu, produksi di kilang minyak terhenti, dan Prancis diperkirakan harus mengimpor lebih banyak listrik karena gangguan operasional di pembangkit listrik tenaga nuklir.

Menurut data kementerian pendidikan, 16 persen guru ikut serta dalam aksi mogok ini. Serikat pekerja melaporkan bahwa gangguan terjadi di lebih dari satu dari empat sekolah menengah (lycées) serta sebagian besar universitas. Alice De Brito, wakil presiden serikat mahasiswa Unef, mengatakan kepada BBC bahwa tuntutan saat ini tidak lagi terbatas pada investasi di sektor pendidikan, melainkan mencakup seluruh layanan publik di Prancis.

Respons Pemerintah dan Keamanan

Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez mengerahkan 70.000 personel kepolisian untuk menjaga keamanan dan menjanjikan respons yang sangat tegas terhadap potensi kekerasan. Pihak berwenang mengantisipasi risiko dari kelompok sayap kiri radikal “black bloc”, aksi penjarahan, hingga demonstrasi liar yang tidak memiliki izin.

Kericuhan dilaporkan terjadi di kota Lyon dan Rennes. Di Lyon, sebuah mobil dibakar di dekat jembatan Gallieni, sementara ratusan anggota kelompok “black bloc” terlibat bentrokan dengan polisi. Di Rennes, pihak prefektur setempat melaporkan adanya kelompok bertopeng yang bertindak agresif di depan barisan utama pawai serikat pekerja.

Pemerintah Prancis sebelumnya telah berupaya meredam kemarahan publik dengan merilis 10 juta barel diesel dari cadangan strategis untuk menekan harga bahan bakar. Selain itu, pemerintah menjanjikan reformasi pada platform penerimaan universitas Parcoursup yang tidak populer, dengan rencana penggantian sistem tersebut pada tahun 2028.

Terkait rute aksi di Paris, serikat pekerja sempat mengeluhkan sulitnya koordinasi karena izin rute baru disetujui pada Rabu malam. Pawai akhirnya diizinkan melintasi rute dari Place de la République menuju Place de la Nation, menghindari area sensitif seperti Majelis Nasional dan Istana Élysée. Sementara itu, gerakan “rompi kuning” (gilets jaunes) telah menyerukan aksi blokade dan protes lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat dan Sabtu mendatang.

Sumber: BBC News

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *