Daftar Isi
Fenomena serangga yang mengerumuni lampu di malam hari kini semakin jarang ditemui seiring dengan peralihan penggunaan lampu pijar ke teknologi LED. Perubahan ini memengaruhi perilaku serangga yang selama ini mengandalkan cahaya sebagai panduan navigasi alami mereka.
Perbedaan Respon Serangga terhadap Jenis Cahaya
Roland Rumm, seorang pemandu wisata, mengungkapkan pengalamannya terkait perubahan ini di area makan luar ruangan keluarganya. Dahulu, area tersebut dipenuhi serangga yang menarik perhatian tokek untuk datang dan memangsa mereka. Namun, setelah keluarganya mengganti lampu dengan jenis LED, jumlah serangga yang datang berkurang drastis, sehingga tokek pun tidak lagi terlihat di sana.
Menurut laporan BBC, serangga terbang menggunakan cahaya bulan untuk bernavigasi dengan cara menjaga posisi cahaya tetap berada di atas punggung mereka agar tetap tegak saat terbang. Karena cahaya bulan merupakan pantulan sinar matahari, ia mengandung spektrum ultraviolet (UV) dan inframerah. Serangga menganggap lampu buatan yang memancarkan sinar UV sebagai bulan, sehingga mereka cenderung berputar-putar di sekitar sumber cahaya tersebut.
Hasil Penelitian Ilmiah
Lampu pijar tradisional diketahui memancarkan sinar UV, berbeda dengan lampu LED yang umumnya tidak memancarkan spektrum tersebut. Pada tahun 2016, para ilmuwan dari University of Bristol, Inggris, melakukan eksperimen untuk membandingkan daya tarik empat jenis lampu terhadap serangga, yakni lampu pijar filamen tungsten, lampu fluoresen kompak (CFL), serta LED putih dingin dan putih hangat.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa lampu LED menarik serangga secara signifikan lebih sedikit dibandingkan sumber cahaya lainnya. Para peneliti menyimpulkan bahwa karena lampu LED mengubah energi listrik menjadi radiasi elektromagnetik dalam spektrum cahaya tampak (400–700 nanometer), mereka tidak membuang energi untuk memancarkan sinar UV atau inframerah yang tidak terlihat oleh mata manusia namun sangat menarik bagi serangga.
Dampak terhadap Populasi Serangga
Berkurangnya serangga di sekitar lampu LED dianggap sebagai dampak positif bagi ekosistem. Berdasarkan ulasan yang dikutip BBC, cahaya buatan yang mengandung sinar UV dari lampu tradisional sering kali mengganggu aktivitas alami serangga, seperti proses reproduksi dan mencari makan. Gangguan cahaya buatan di malam hari ini dinilai menjadi salah satu faktor utama penurunan populasi serangga secara global.
Penggunaan teknologi LED yang lebih efisien energi dan minim emisi UV kini berpotensi mengurangi gangguan terhadap satwa liar serta menekan risiko penyebaran penyakit yang ditularkan melalui serangga.
Sumber: Hacker News: Front Page








