Daftar Isi
Partai Republik di Amerika Serikat menghadapi pemilu paruh waktu di tengah situasi pemerintahan Donald Trump yang belum mampu menyelesaikan konflik dengan Iran. Hasil pemilu tersebut diprediksi akan mengubah peta politik secara drastis, sementara nasib perang tidak hanya ditentukan di Washington atau Tehran.
Dampak Pemilu Paruh Waktu AS
Kemenangan Partai Demokrat akan memaksa Trump untuk lebih mengalihkan perhatian ke isu-isu domestik serta mengungkap biaya finansial perang di hadapan Kongres, menurut Omid Memarian dari lembaga riset DAWN seperti dilaporkan Deutsche Welle: DW.com – Top Stories (dw.com). Kendati demikian, Memarian menyatakan bahwa Trump tetap dapat melanjutkan serangan terbatas ke Iran tanpa perlu mendeklarasikan perang secara resmi.
Memarian menyebutkan bahwa Trump akan mencari jalan keluar yang dapat menyelamatkan muka pasca-pemilu, seraya menambahkan bahwa Iran sedang berjudi besar dengan seorang pemimpin yang bertindak di luar kebiasaan politikus konvensional. Pendapat senada disampaikan oleh profesor hubungan internasional Universitas Leiden, Babak Rezaeedaryakenari, yang menilai bahwa presiden memiliki keleluasaan luas dalam kebijakan luar negeri sehingga kekalahan Partai Republik tidak serta-merta menghentikan aksi serangan militer baru.
Kebuntuan Politik di Israel
Situasi politik di Israel turut memperkeruh keadaan setelah pemilu akhir Oktober lalu berakhir tanpa kemenangan mutlak bagi kubu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu maupun kubu penantang Gadi Eisenkot. Memarian menilai ketidakpastian ini dapat mendorong Netanyahu mengambil keputusan besar saat masih memegang kuasa, menjadikan masa transisi sebagai periode paling rentan terhadap eskalasi.
Sementara itu, Rezaeedaryakenari berpandangan bahwa kekhawatiran keamanan Israel terhadap Iran tidak bertumpu pada sosok Netanyahu seorang. Perubahan pemerintahan di Israel mungkin mengubah waktu konfrontasi serta koordinasi dengan Washington, namun struktur keamanan dan koalisi penguasa tetap memegang peran besar dalam menentukan risiko serangan.
Buntu Isu Nuklir
Program nuklir Iran tetap menjadi ganjalan terbesar antara kedua negara, di mana Washington menolak klaim Tehran bahwa program tersebut murni untuk kepentingan sipil. Memarian menjelaskan bahwa kedua belah pihak juga berselisih mengenai format perundingan, di mana Amerika Serikat menuntut konsesi di awal pembicaraan sebelum membahas hal lain.
Sebaliknya, Iran menuntut pencabutan sanksi serta pencairan aset yang dibekukan sebelum perundingan nuklir dimulai. Analis politik asal Finlandia, Leila Morovati, menyatakan bahwa program nuklir adalah inti dari kebuntuan ini karena dipandang oleh pemerintah Iran sebagai jaminan kelangsungan hidup sekaligus alat tawar.
Selat Hormuz dan Peran Houthi
Sebelum perang meletus pada akhir Februari, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, namun Iran telah memangkas ekspor energi melalui jalur tersebut sebagai alat tekanan. Memarian menuturkan bahwa pembatasan di selat tersebut tidak akan memicu eskalasi dengan sendirinya, kecuali Washington memutuskan insiden tertentu sebagai alasan untuk melancarkan serangan balasan yang lebih luas.
Di Yaman, kelompok pemberontak Houthi terus menargetkan ekspor energi di Laut Merah, meskipun Memarian menegaskan bahwa akar perjuangan mereka bersifat domestik dan organik terlepas dari kedekatan ideologis dengan Tehran. Di sisi lain, Rezaeedaryakenari menilai serangan Houthi berpotensi memperluas cakupan perang dan mendorong negara-negara kawasan mempererat kerja sama militer untuk melindungi perdagangan mereka.
Peran Mediator Regional dan Kalkulasi Ekonomi
Di tengah mandeknya dialog langsung antara Iran dan Amerika Serikat, Qatar, Oman, Pakistan, dan Saudi Arabia muncul sebagai negara mediator yang berupaya mencegah perluasan konflik. Morovati memperingatkan bahwa kegagalan Amerika Serikat dalam melindungi sekutu Arabnya dapat mendorong negara-negara tersebut berpaling ke arah rival-rival Washington.
Menanggapi langkah pasca-pemilu, Memarian memperkirakan bahwa momen saat ini adalah kesempatan terbaik untuk mengakhiri kebuntuan sebelum masa jabatan Trump berakhir pada Januari 2029. Sementara itu, Rezaeedaryakenari memprediksi faktor-faktor eskalasi akan mendominasi dalam beberapa bulan mendatang, mengingat pelonggaran kebijakan oleh Iran dapat mengancam kelangsungan rezim itu sendiri.
Tekanan ekonomi akibat kenaikan harga minyak dan risiko pengiriman logistik kini dirasakan oleh semua pihak yang terlibat dalam perang yang telah memasuki bulan kesembilan ini. Morovati menyimpulkan bahwa perekonomian adalah titik lemah dari setiap pihak yang bertikai, namun sejauh ini masing-masing kubu masih meyakini bahwa memberikan tekanan lebih besar akan memperkuat posisi tawar mereka dalam perundingan masa depan.








